“Ne, Sandeul-ie, jadi bagaimana? Sudah bilang padanya
belum?”
Dia melirikku lewat sudut matanya, kebimbangan tergambar
jelas dari wajahnya. Ia menghembuskan nafas dengan keras seolah-olah itu dapat
meringankan beban yang ada padanya. Jemarinya masih saja memutar-mutar kotak
kecil itu, kotak yang sudah aku ketahui dengan pasti apa isinya, dan akan
ditujukan kepada siapa.
“Entahlah, bagaimana kalau aku ditolak?”
Aku tertawa mendengarnya, “Penolakan bukan sebuah akhir”.
Kutepuk pelan pundaknya, “Yang namanya akhir adalah saat kamu sudah menyerah
bahkan sebelum mencoba.”
Perlahan dia bangkit, “Kamu benar, Soo Eun-ah. Aku akan
katakan padanya sekarang.”
Dia tersenyum padaku, senyuman yang selalu saja kusuka meski
sudah berkali-kali aku melihatnya. “Semangat, Sandeul-ie!” Semangat? Kau bodoh Soo Eun, sangat bodoh. Bila kau biarkan dia pergi,
maka itu akan menjadi akhir bagi dirimu sendiri!
-oOo-
Bukankah ironi?
Kita berdua layaknya domino. Aku jatuh cinta padamu, kamu jatuh cinta padanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar