Selasa, 10 Mei 2016

Ficlet : My Reason





[Ficlet] My Reason
By Tainn

Cast: BooSeungKwan(Seventeen), Aku(OC), Jeonghan(Seventeen)
G//FriendShip//?

Disclaimer: Semua Cast di sini bukanlah milik saya, saya hanya meminjamnya sebentar. Cerita ini adalah milik saya, jikalau ada kesamaan pada alur, plot, atau apapun itu terjadi karena ketidaksengajaan. Dan mohon maaf jika ada kesalahan serta terima kasih yang sebesar-besarnya.


*
Jika begitu tak ada alasan lagi bagiku untuk bisa bertemu denganmu...

*


"Bagaimana?" Tanya Seungkwan sambil duduk di kursi di depanku.


"Mm..!" Aku berhenti menyeruput secangkir kopi hangat. Ku letakkan cangkir bermotif bunga kembali ke atas piring kecil yang memiliki motif yang sama pula.


"Mengapa kau bertanya lagi?" Aku balik bertanya. "Bukankah kopi buatanmu tak mungkin di ragukan lagi rasanya?"


"Tak.." jawabnya. "Bukan rasanya! Aku pun tahu!" Aku membulatkan mataku, seakan mencoba memperluas pendengaran dengan netraku- meski aku tahu itu sama sekali tak berguna-. Ia tersenyum diikuti kekehan kecil.


"Lalu?" Nada suaraku mengandung rasa jengkel.


Seungkwan memperdekat jarak dengan mencondongkan wajahnya ke arahku. Aku balas menatapnya. Seungkwan menatapku seakan aku tahu apa yang ingin ia tanyakan, namun aku hanya diam. Seungkwan menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Bagaimana keadaannya?" Ia terlihat excited  lagi.


"Siapa?" Aku mencoba memahami pertanyaannya. "Ah!" Aku tersenyum.


Seungkwan semakin meninggikan senyumnya membuat kedua belah pipinya mengembung.


"Korban..." aku menghela nafas dalam-dalam. Wajah Seungkwan berubah, senyumnya mulai menurun.


"... ada lebih dari dua tusukkan di bagian punggungnya... bukan tusukkan benda tajam!" Suaraku sedikit menaik. Aku menatap Seungkwan dalam-dalam.


"Bagaimana bentuk tusukkan itu?"


"Bentuk?" Aku kembali mencoba memikirkan pertanyaan Seungkwan.


"Bulat.. ukurannya sekitar..." aku membuat lingkaran kecil dengan kedua jari kananku. "Seperti ini! Ukurannya cukup kecil, hanya... diameternya mungkin sekitar...." aku mencoba mengingat-ingat.


"Satu centimeter?" Tanya Seungkwan tiba-tiba.


"Ya!" Aku mengangguk cepat. "Bagaimana kau bisa tahu?"


"Karena aku terlalu hebat." Ucapnya penuh dengan percaya diri. Aku hanya mendengus kecil.


"Baiklah.. lalu menurutmu tusukkan senjata apa itu? Seungkwan yang hebat.." mood- ku jadi berubah seketika itu juga.


"Tusukan dari senjata tumpul, ya? Mm..." Seungkwan terlihat menimang-nimang kata-kata yang ia ingin katakan.


"Dengan ukuran sekecil itu, bisa ku katakan.. mm... Obeng!" Serunya.


"Obeng? Bagaimana kau bisa seyakin itu?"


"Ayolah! Itu hal yang gampang!" Lagi-lagi nada suaranya terdengar mengandung kesombongan, tapi aku tak mengubrisnya, sudah menjadi kesukaannya melakukan itu. "Aku pernah menontonnya pada salah satu film hollywood -"  belum selesai Seungkwan mengungkapkan pendapatnya aku malah memotongnya.


"Jangan kau samakan masalah ini dengan film yang kau tonton! Mereka hanya-" Seungkwan balas memotong kalimatku.


"Bisa saja ia terinspirasi dari sana?" Seungkwan mencoba mempertahan pendapatnya.


Aku menghela napas. Aku tak pernah suka berdebat dengannya, karena aku tahu ini tak akan ada habisnya, Seungkwan selalu dapat membela dirinya lagi dan lagi.


"Bisa saja-"


"Stop it! Stop!" Aku ingin mengakhiri perdebatan kami sebelum mencapai puncaknya.


Seungkwan hanya diam, tak ku sangka ia akan diam hanya dengan beberapa kata yang terlontar dari mulutku.


"Apa tak ada senjata apapun di TKP?" tanya Seungkwan namun dengan suara yang lebih pelan dan sambil berbisik.


Semangatku bangkit kembali. "Itulah yang jadi masalah! TKP terlihat benar-benar bersih! Aku yakin orang ini benar-benar berbakat!"


Seungkwan terlihat berpikir, begitu pun aku.


"Seungkwan! Waktumu sudah habis Seungkwan!" Suara yang tak asing lagi bagi telinga Seungkwan dan aku. Kami menoleh. Laki-laki berambut panjang berwarna kuning mendekati meja mereka.


"Jeonghan hyung..."suara Seungkwan terdengar sendu. Aku menoleh pada Seungkwan.


"Sudah lima belas menit, ya?" Tanyaku pada Jeonghan yang sudah berdiri di depan meja kami.
Jeonghan tersenyum ke arahku, lalu mengangguk pelan. "Seungkwan! Kembali bekerja!" Jeonghan menatap Seungkwan.


"Tunggu.." aku menghentikan langkah Seungkwan. "Sebentar saja boleh?" Aku menatap Jeonghan, ia mengangguk pelan dan berjalan menjauh dari meja kami. "Seungkwan aku akan kembali besok,"


"Apa kau ingin pergi? Secepat ini? Pesanlah beberapa makanan manis atau kopi terbaru yang tersaji di sini!"


Aku menggeleng dan bangkit dari kursiku. "Aku akan membicarakannya lagi denganmu,"


"Baiklah," Kata Seungkwan pasrah. "Jika tabunganku sudah cukup untuk membelinya, kau tak perlu cape-cape ke cafe ini hanya untuk membicarakannya, kita bisa memainkannya bersama lewat online."


Jika begitu tak ada alasan lagi bagiku untuk bisa bertemu denganmu...


"Ya! Jika kau telah membeli handphone yang baru aku akan memberikan game itu padamu!" Aku hanya tersenyum dan meninggalkan kafe kopi.
-Fin-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar