Drawing by SeeMe
Remember That series; Ficlet;
BTOB Changsub and Seventeen Dino
o
People will Remember that day, when Changsub let Dino
to Drawing
o
“Hyung, apa yang sedang kau lakukan?”
Changsub hanya bergumam, tangan
kirinya masih sibuk menorehkan kuas pada kanvas putih yang ada di depannya.
Lukisannya masih setengah jadi.
“Hyung!”
Changsub terkekeh pelan, ia
melirik sekilas Dino yang duduk merengut di pojok. Pemuda yang umurnya berjarak
hampir delapan tahun darinya itu memandangi dengan kesal sambil menggerutu.
Lee Chan namanya, tapi pemuda
setinggi 5 kaki 6 inci itu melarang Changsub memanggil dengan nama itu—hyung, panggil aku Dino—ujarnya di suatu
pagi. Changsub hanya mengiyakan tanpa bertanya. Toh, ia juga tidak bertanya
bagaimana bisa pemuda itu tiba-tiba berada di tempatnya. Juga saat pemuda itu
memanggilnya hyung. Atau saat pemuda
itu meminta Changsub menganggapnya sebagai saudara. Changsub mengiyakan, tidak
pernah bertanya.
Dino masih melototi Changsub,
menuntut jawaban.
“Melukis langit”
“Lagi?”
Changsub meletakkan kuas di atas
meja di samping kirinya, ia mendekati Dino, mengusap pelan puncak kepalanya.
Menghembuskan nafas perlahan, duduk di samping pemuda bersurai hitam legam itu.
“Tentu saja. Itu sudah menjadi
tugas hyung-mu ini”
“Apa aku nanti juga akan
mengerjakan tugas itu, hyung?”
Changsub menerawang, iris cokelat
hampir hitam miliknya menatap lurus langit yang ada di atasnya—ruangan itu
memang tanpa atap, dinaungi langsung oleh langit. Ruangan itu memang
diperuntukkan bagi Changsub melihat langsung hasil lukisannya.
“Entahlah”
Dino membalikkan posisi duduknya,
memunggungi Changsub. Memperlihatkan pada sang kakak ketidaksukaannya pada
jawaban asal yang diterimanya. Sang kakak hanya tertawa pelan.
Changsub bangkit dari duduknya,
melangkah menuju meja di sudut lain ruangan tersebut. Menuangkan kopi hitam pada
cangkir putih, aroma kopi menguar memenuhi ruangan, kemudian hilang terbawa
hembusan angin. Ia menyesapnya perlahan. Tidak ada yang lebih menenangkan
daripada segelas kopi di siang hari.
Changsub memandangi pungung Dino
yang masih kukuh merajuk. Terkekeh pelan, ia menuangkan melya pada gelas yang
satunya, membawa serta gelas itu saat ia mendekati Dino.
“Dasar perajuk”
Dino bersungut-sungut mendengar
ejekan itu, ia meraih gelas berisi melya yang disodorkan Changsub yang duduk di
sampingnya. Meminumnya, membiarkan rasa kopi, cokelat serta madu berbaur dalam
mulutnya.
“Aku’kan hanya bertanya”
“Aku akan jawab”
“Bohong”
“Tidak”
“Hyung berbohong. Aku sudah bertanya tadi”
“Dan aku juga sudah menjawabnya”
Dino berdecih pelan, “hyung hanya menjawab dengan kata
‘entahlah’, memangnya ada jawaban yang seperti itu”
Si penggemar berat kopi itu
terdiam sejenak, mencerup pelan seduhan kopi Kolombia di gelasnya. Kembali, obsidiannya
menembus cakrawala. Ia diam.
Hening kemudian.
“Ulangi pertanyaanmu” gumamnya
pelan. Lebih pelan dari cicitan burung di balik jendela kusam ruangan itu.
“Apa aku nanti juga akan
mengerjakan tugas itu, hyung?”
“Mungkin” ia mengusap pelan
puncak kepala Dino, “setelah hyung sudah
tidak ada lagi di sini”
Dino memandanginya, kedua alisnya
hampir bertaut. Iris mata itu penuh tanya, Changsub menatap langsung manik mata
berwarna langka itu, berwarna amber. Manik berwarna campuran cokelat kekuningan
dengan semburat warna tembaga—mata
serigala—begitu orang-orang menyebutnya.
Changsub mengalihkan pandangan.
“Kamu menyukai langit?”
Untuk pertama kalinya, Changsub
bertanya.
Pemuda bersurai hitam itu
mengangguk antusias.
“Langit yang bagaimana?”
Sepertinya harus ada perayaan
untuk ini, Changsub bertanya sudah lebih dari sekali—sesuatu yang sedikit aneh
mengingat bahwa pria berpipi chubby
itu tidak pernah sekalipun bertanya. Tidak pada saat ia diberikan beban tugas
melukis langit, tidak juga saat ia bahkan tidak mengingat apapun selain
namanya. Changsub hanya menerima, tanpa bertanya.
Dino berpikir sejenak, matanya
berputar-putar. Jarinya mengetuk kursi berirama. Changsub bangkit dari
duduknya, meletakkan cangkir di atas meja. Meraih kuas yang terabaikan.
“Aku suka langit berwarna biru,
tanpa awan”
Changsub menghentikan tangannya
di udara, memandangi lukisan di depannya. Langit biru ditemani beberapa awan
yang beriringan.
“Tapi langit terlihat sepi tanpa
awan” sanggahnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
Dino menggeleng cepat, melompat
turun dari kursi kemudian berlari kecil menuju Changsub dan kanvasnya.
“Langit lebih bagus tanpa awan.
Lihat”. Ia menunjuk lukisan Changsub, sebuah garis putih panjang membentang
dari satu sudut ke sudut yang lainnya. “Langitnya jadi tidak indah lagi
gara-gara awan ini”
Changsub tersenyum samar, “itu
bukan awan”
“Lalu apa?”
Changsub menarikan jemarinya pada
permukaan kanvas, mengikuti alur garis putih yang membentang. “Ini jejak yang
dibuat oleh manusia”
“Apa mereka juga melukisnya?”
Changsub menggeleng.
“Lalu bagaimana caranya? Kukira
cuma hyung yang bisa melukis warna di
langit”
“Dulu memang hanya aku” gumam
Changsub pelan, ia menggigiti kuku jarinya tanpa sadar. “Tapi kemudian manusia
menemukan cara bepergian dengan benda besi bersayap”
Dino memandanginya dalam diam,
menunggu kelanjutan.
“Saat mereka menaiki benda itu,
garis ini tercipta di langit”
“Langit jadi jelek”
“Benarkah?”
“Ya. Langit itu lebih bagus
berwarna biru, mmm jingga juga tidak masalah. Sebenarnya aku lebih suka langit
tanpa tambahan garis ini”
Hening.
“Bagaimana dengan hyung?”
Changsub tersenyum samar, “aku
tidak masalah dengan garis itu, langit tetaplah cantik. Karena langit memang
cantik”.
Dino hanya mengangguk-angguk
pelan.
“Mau mencobanya?”
“Apa?”
“Melukis warna di langit”
Dino tercengang, detik berikutnya
ia mengiyakan dengan antusias.
Ia akan melukis warna di langit!
Changsub menyerahkan kuas kayu
itu pada Dino, membiarkan pemuda itu melangkah mendekati kanvas sedangkan
dirinya beringsut mundur.
Dino mengarahkan kuas kayu itu
pada kanvas, mencoba mengendalikan tangannya yang bergetar hebat. Ia bertumpu
pada rak di kanannya—hingga ia menyadari bahwa itu pilihan yang salah.
o
“Maafkan aku, hyung”
Changsub memandangi kanvas yang
ada didepannya, lukisan langit itu sudah berwarna merah kemerahan. Ia
mendongak, mendapati langit yang berubah warna di atas sana. Perlahan namun
pasti, biru langit memudar menjelma merah, seolah langit baru saja terluka
hingga darahnya merembes kemana-mana.
Bukan, langit tidaklah terluka,
hanya saja Dino baru saja menumpahkan cat merah ke atas kanvas—tidak sengaja
memang. Changsub menelan semua kata yang ingin ia lontarkan pada pemuda itu,
akalnya menahannya.
Bukan sepenuhnya salah bocah
itu—yang begitu gemetar hingga menjatuhkan cat di rak yang dipegangnya. Ini
juga salahnya—salah Changsub, membiarkan cat-cat di rak tidak ditutup.
Salahnya juga menawarkan Dino
untuk melukis.
Salahnya juga membuat orang-orang
akan mengingat hari itu sebagai langit
berdarah.
People will Remember that day, when Changsub let
Dino to Drawing
©2016 Juli
Terimakasih
sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Sekian//tebardollar
Salam...
Salam...
֎֍SeeMe֎֍



