Langit Runtuh by SeeMe
PG15/Ficlet/AU, Surreal, Romance
Cast : Ryu Sujeong (Lovelyz); Yu
Seungwoo (Soloist)
(Tiada milik saya. Milik saya
hanya plot cerita ini. Saya tidak berniat menimbulkan kerusakan karakter, salam)
o
Waktu itu Seungwoo bilang langit
bisa runtuh kalau dia sampai patah hati. Dasar pembual puitis, dia memang seperti itu—suka menghiperbolakan
segala hal, memajaskan segala perkataannya. Langit runtuh? Memangnya siapa yang
akan percaya! Mana bisa langit runtuh—itu yang langsung terpikir malam itu, tapi
sepertinya aku salah.
o
Suara gaduh dari luar
membangunkanku, terdengar derap langkah kaki orang berlarian. Memangnya boleh
lari-lari di koridor seperti itu? Dasar
tidak sopan!
Aku berjalan menuju pintu, niat
awal mau memarahi orang di luar sana. Tapi sesuatu yang terlihat dari balik
jendela menghentikan niatku itu. Aku mengalihkan arah, berjalan menuju jendela.
Memastikan apa yang kulihat sekilas tadi benar-benar terjadi.
Dan aku berharap itu hanya ilusi
atau imajinasiku saja.
Di langit kulihat retakan!
Wow, memangnya langit terbuat
dari kaca atau sejenisnya? Kenapa bisa retak seperti itu?
Langit akan runtuh kalau aku patah hati. Aku bergidik ngeri,
tiba-tiba saja suaranya terdengar melalui hembusan angin. Itu perkataannya
setelah menyatakan perasaannya padaku kemarin malam—kalimat puitis yang lebih
terdengar seperti bualan kosong. Aih, dia tidak bercanda rupanya.
Aku menengok kebawah, orang-orang
lari pontang-panting dan berteriak histeris. Kenapa setakut itu? Langit kan cuma
retak bukannya—
Tiba-tiba bunyi berdebum keras
terdengar, aku mengalihkan pandanganku ke kanan. Di depan toko bunga
langgananku, ada sebuah potongan langit terjatuh di aspal. Aku sontak
mendongak, retakan di langit semakin banyak, dari retakan kecil menjalar
menjadi retakan besar. Bunyi retaknya seperti kaca hendak pecah—tapi lebih
nyaring dan menakutkan.
Beberapa serpihan langit berjatuhan
kemudian, ada satu serpihan kecil langit yang tanpa sengaja kuikuti gerak
jatuhnya. Serpihan kecil langit yang kulihat itu berdentam keras begitu
menyentuh tanah—dan ukurannya tidaklah kecil ternyata, sebesar mobil malah.
Aku kembali mendongak, memperhatikan
langit yang retak, bagian langit tempat serpihan tadi berasal sekarang terlihat
seperti ruang kosong, berwarna hitam kelam lebih pekat daripada hitamnya hitam.
Mengerikan!
Oke, tenangkan dirimu, Sujeong.
Sekarang pikirkan apa yang harus
aku lakukan? Ikut turun ke jalan dengan ancaman terkena serpihan langit atau
berdiam di kamar menunggu langit menimpa gedung ini? Aih, sama saja. Mati juga akhirnya.
Daripada mati tanpa usaha, akal
sehatku memaksa melakukan sesuatu—menemuinya. Orang yang katanya kalau patah
hati langitpun runtuh jadinya.
Menemuinya—si Seungwoo itu, kalau-kalau
dia bisa membatalkan runtuhnya langit. Sekali lagi aku mencek keadaan langit,
masih ada di atas sana, belum runtuh—tapi retaknya semakin parah.
Aku bergegas mengambil mantel,
dompet dan juga ponsel. Berlari keluar, ah
sial! Aku lupa mengunci pintu, sudahlah, ini darurat!
o
Aku sudah berada di jalan,
orang-orang masih berlarian. Apa kalian tidak punya tujuan? Tapi, dipikir-pikir
percuma saja berlarian begitu, kemanapun pergi tetap akan ada langit. Percuma.
Ada beberapa orang yang
tersandung dan jatuh, kasian sekali. Mereka diinjak-injak tanpa ampun oleh
orang-orang yang ketakutan sambil memandangi langit yang semakin retak.
Menghindari rengkahan langit, supaya tidak bernasib sama seperti beberapa orang
yang berteriak kesakitan terhimpit oleh potongan langit yang jatuh.
Sujeong! Tidak ada waktu memperhatikan orang-orang, fokuslah!
Sekarang aku harus bagaimana? Naik bus? Benda besar itu bahkan sudah
terbalik di trotoar. Taksi?
Pengemudinya rasanya lebih memilih mengendarainya, mencari tempat aman daripada
mengantar penumpang demi beberapa helai uang. Memangnya siapa yang perlu uang
sekarang, langit mau runtuh! Sekarang aku menyesalinya, seharusnya aku membeli mobil!
Apa aku harus berjalan kaki? Mau jalan kemana? Rumahnya saja tidak
tahu. Oh iya! Merogoh saku, men-dial nomor teleponnya, untung nomornya belum kuhapus. Beberapa
detik kemudian, terdengar suara perempuan, merdu sekali tapi kata-katanya
menyebalkan—nomor yang Anda tuju...
o
Coba kuingat, rasanya si sialan
itu sudah pernah mengatakan dimana rumahnya, ah harusnya kucatat waktu itu.
Tiba-tiba sesuatu jatuh tepat di
depanku. Aku menelan ludah susah payah, kalau benda itu lebih besar sedikit
saja, aku sudah tertimpa dan mungkin akan tinggal nama. Tapi apa cocok sesuatu yang ada di depanku saat ini
kusebut benda? Sesuatu itu berwarna
putih, dan selembut kapas—aku benar-benar nekat menyentuhnya karena
penasaran—namun pada saat yang sama terasa keras seolah padat.
Aroma vanilla-nya membuatku tanpa sadar mencubit sebagian kecil benda itu, menelannya. Manis! Seperti
permen kapas. Kalau ini permen kapas, maka ini permen kapas terbesar yang
pernah kulihat. Ini sebenarnya apa?
Aku mendongak ke langit, terpekik
kaget. Kulihat beberapa awan mulai terpisah seperti kabut yang tertiup angin. Tapi
jika kabut yang ditiup angin itu akan menjadi tiada, berbeda dengan awan di
atas sana. Mereka mulai berjatuhan!
Aku memandangi benda yang teronggok di depanku, sudah
yakin kalau benda ini sejenis dengan benda yang mulai berjatuhan dari atas
sana.
Astaga! Memangnya belum cukup
potongan langit yang jatuh, sekarang awan juga!
Seungwoo sialan! Kenapa harus
meruntuhkan langit segala sih? Patah hatimu benar-benar berlebihan.
Aku bergegas berlari mencari
tempat berlindung. Ada sebuah bayangan hitam besar menaungiku. Aku mendongak,
sial! Serpihan langit!
o
Harusnya jangan kutolak dia.
©2016 Juli
Terimakasih
sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Sekian//tebardollar
Salam...
Salam...
֎֍SeeMe֎֍

Tidak ada komentar:
Posting Komentar