Please Stop : Seeing
the Sky
By Tainn
Cast : Suhyun
(Snuper) and Sebin (Snuper)
G//Ficlet Contain 590 words //AU//Friendship//Thriller// etcetera
Disclaimer : Saya cuman pinjam cast-nya untuk kepentingan
cerita. Isi cerita dari pemikiran saya. Saya tidak bermaksud membuat kerusakan
karakter dan mengambil keuntungan dari itu.
---
Hanya ingin melihat langit untuk satu fajar dan satu senja. Bolehkan?
---
“Apa yang kau lakukan?” rasa
penasaran membobol keluar secara paksa lewat mulutnya.
“Melihat langit.” Jawabnya
singkat bahkan tanpa menoleh untuk melihat siapa orang yang tengah mengajaknya
bicara itu.
Dengan perlahan namun pasti
lelaki kelahiran 96 itu berjalan –melintasi koridor rumah sakit yang dingin dan
senyap –dengan mengangkat tongkatnya. “Memangnya ada apa dengannya?”
Lelaki yang ditanya, kini
menoleh. “Langit?” tanyanya balik, memastikan. Anggukan dengan ekspresi lugu
yang ia dapat dari lelaki asing yang mendekat ke arahnya. “Hanya melihat saja.”
Jawabnya lagi.
Lelaki kelahiran 96 itu kembali
bertanya dengan antusias. “Apa yang kau lihat?”
Lelaki itu menoleh lagi namun
dengan ekspresi yang berbeda, kesal mungkin. “Langit.” Namun tetap menjawab.
“Mengapa?”
Lelaki yang lebih muda darinya lima
tahun itu telah membuatnya menggeram dan menggerutu dalam hati. “Melihat langit.”
Namun lelaki kelahiran 91 itu
memberikan jawaban yang belum memuaskan rasa penasaran Sebin.
“Wae?” tanya Sebin lagi dan lagi untuk kesekian kalinya.
Jika tak mengingat lokasi mereka
yang tengah berada di dalam rumah sakit, Suhyun mungkin saja sudah menedang
lelaki itu keluar dari jendela yang ia jadikan perantara untuk mengamati langit.
“Apa yang sebenarnya ingin kau
ketahui?” lelaki kelahiran 91 itu mencoba memenuhi keingintahuan lelaki
bertongkat itu, agar cepat menjauh darinya.
“Aku hanya terganggu dengan
kebiasaan anehmu ini.” Sebin telah menahan keingintahuannya sejak waktu yang
cukup lama, mungkin semenjak ia mengalami patah tulang betis kirinya.
Mungkin mereka bisa menghentikan
pembicaraan ini dengan cara jantan, adu kekuatan mungkin? Tapi hal itu tak akan
adil bagi Sebin.
“Untuk apa kau melihat langit
itu? hanya orang aneh yang melakukan hal aneh itu bukan?”
Suhyun terkekeh pelan, apa lelaki asing ini tengah mengejeknya? Sahut
suara asing dari dalam benak lelaki berambut pirang itu, kemudian lantas menyeringai.
“Apa mereka berwarna biru?” Suhyun
kembali memandang langit. Entah mengapa kedamaian dan ketenangan menghampiri
jiwa dan pikirannya setelah melihat langit polos tanpa awan tebal, hanya
awan-awan tipis disekitarnya.
“Biru. Memang apa lagi?” nada
Sebin yang asal-asalan terdengar menyebalkan.
“Seingatku langit pernah berwarna
kemerah-merahan.” Lelaki berambut pirang itu mencoba mengingat-ingat.
“Maksudmu senja?” Sebin
meyakinkan. Suhyun terlihat manggut-manggut sembari membentuk bibirnya bulat
dan mengelurkan suara oh.
“Lalu apakah benar fajar membuat
langit berwarna keunguan?” Suhyun terlihat bergairah. Sebin mengangguk ragu.
“Aku tak suka bangun terlalu
pagi, jika hanya untuk melihat warna langit, jadi aku tak terlalu yakin akan
warna fajar.”
“Kau akan menyesalinya.” Sebin
lantas tersontak kaget mendengar pernyataan dari lelaki pirang itu. “Aku saja
merindukan warna mereka.”
“Hei, tunggulah beberapa jam lagi
senja akan datang, dan besok mentari juga akan kembali muncul ke permukaan
membawa warna keunguan untuk mengiasi langit.”
“Kau masih bisa melakukannya,
melihat mereka. Tapi tak untukku.”
Sebin mengernyitkan dahi,
terlihat jelas kebingungan menghiasi wajahnya. “Menga—“ Sebin ingin mengungkapkan
rasa bingungnya, namun si pirang itu mulai berujar lagi.
“Jika kau terlalu malas, barang
bangun pagi untuk melihat keindahan langit ungu. Aku bisa melakukannya.”
“Bukankah kau tak dapat melihat
mereka? Mengapa? Dan lalu bagaimana kau ingin melihat mereka?”
Suhyun terlihat manggut-manggut.
Suhyun perlu menjawab seluruh pertanyaan Sebin dan tentunya menjelaskan maksud
lelaki pirang itu. sejak awal Sebin selalu memendam beribu-ribu pertanyaan yang
ingin ia haturkan pada lelaki pirang di depannya, lelaki ini terlalu misterius
dan menarik.
“Ya, aku tak dapat melihat
mereka. Aku bisa melihatkan fajar padamu, ya... tentunya dengan bantuan
matamu.”
“Bisakah aku meminjamnya?”
“Hanya ingin melihat satu Fajar
dan satu Senja. Bolehkan?”
Aku memiliki mata untuk melihat...
Aku melihat, melihat dunia, dan kau Sebin...
Yang bisa ku bedakan hanya hitam dan putih...
Langit siang yang putih, langit malam yang hitam...
Namun ada pengecualian untuk fajar dan senja, mereka terlihat sama...
Jadi pinjamkan aku matamu, untuk satu fajar dan satu senja...
End...
Selamat membaca. Terima
kasih telah membacanya hingga akhir. Silahkan tinggalkan komen apa aja, kritik,
saran, atau apapun itu// kalau nggak mau juga nggak apa apa~. Semoga tidak jera
membaca ff saya. Thanks~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar