Senin, 18 Juli 2016

Ficlet : Please Stop - Seeing the Sky




Please Stop : Seeing the Sky
By Tainn
Cast : Suhyun (Snuper) and Sebin (Snuper)

G//Ficlet Contain 590 words //AU//Friendship//Thriller// etcetera

Disclaimer : Saya cuman pinjam cast-nya untuk kepentingan cerita. Isi cerita dari pemikiran saya. Saya tidak bermaksud membuat kerusakan karakter dan mengambil keuntungan dari itu.
---
Hanya ingin melihat langit untuk satu fajar dan satu senja. Bolehkan?
---

“Apa yang kau lakukan?” rasa penasaran membobol keluar secara paksa lewat mulutnya.

“Melihat langit.” Jawabnya singkat bahkan tanpa menoleh untuk melihat siapa orang yang tengah mengajaknya bicara itu.

Dengan perlahan namun pasti lelaki kelahiran 96 itu berjalan –melintasi koridor rumah sakit yang dingin dan senyap –dengan mengangkat tongkatnya. “Memangnya ada apa dengannya?”

Lelaki yang ditanya, kini menoleh. “Langit?” tanyanya balik, memastikan. Anggukan dengan ekspresi lugu yang ia dapat dari lelaki asing yang mendekat ke arahnya. “Hanya melihat saja.” Jawabnya lagi.

Lelaki kelahiran 96 itu kembali bertanya dengan antusias. “Apa yang kau lihat?”

Lelaki itu menoleh lagi namun dengan ekspresi yang berbeda, kesal mungkin. “Langit.” Namun tetap menjawab.

“Mengapa?”

Lelaki yang lebih muda darinya lima tahun itu telah membuatnya menggeram dan menggerutu dalam hati. “Melihat langit.

Namun lelaki kelahiran 91 itu memberikan jawaban yang belum memuaskan rasa penasaran Sebin.

Wae?” tanya Sebin lagi dan lagi untuk kesekian kalinya.

Jika tak mengingat lokasi mereka yang tengah berada di dalam rumah sakit, Suhyun mungkin saja sudah menedang lelaki itu keluar dari jendela yang ia jadikan perantara untuk mengamati langit.

“Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui?” lelaki kelahiran 91 itu mencoba memenuhi keingintahuan lelaki bertongkat itu, agar cepat menjauh darinya.

“Aku hanya terganggu dengan kebiasaan anehmu ini.” Sebin telah menahan keingintahuannya sejak waktu yang cukup lama, mungkin semenjak ia mengalami patah tulang betis kirinya.

Mungkin mereka bisa menghentikan pembicaraan ini dengan cara jantan, adu kekuatan mungkin? Tapi hal itu tak akan adil bagi Sebin.

“Untuk apa kau melihat langit itu? hanya orang aneh yang melakukan hal aneh itu bukan?”

Suhyun terkekeh pelan, apa lelaki asing ini tengah mengejeknya? Sahut suara asing dari dalam benak lelaki berambut pirang itu, kemudian lantas menyeringai.

“Apa mereka berwarna biru?” Suhyun kembali memandang langit. Entah mengapa kedamaian dan ketenangan menghampiri jiwa dan pikirannya setelah melihat langit polos tanpa awan tebal, hanya awan-awan tipis disekitarnya.

“Biru. Memang apa lagi?” nada Sebin yang asal-asalan terdengar menyebalkan.

“Seingatku langit pernah berwarna kemerah-merahan.” Lelaki berambut pirang itu mencoba mengingat-ingat.

“Maksudmu senja?” Sebin meyakinkan. Suhyun terlihat manggut-manggut sembari membentuk bibirnya bulat dan mengelurkan suara oh.

“Lalu apakah benar fajar membuat langit berwarna keunguan?” Suhyun terlihat bergairah. Sebin mengangguk ragu.

“Aku tak suka bangun terlalu pagi, jika hanya untuk melihat warna langit, jadi aku tak terlalu yakin akan warna fajar.”

“Kau akan menyesalinya.” Sebin lantas tersontak kaget mendengar pernyataan dari lelaki pirang itu. “Aku saja merindukan warna mereka.”

“Hei, tunggulah beberapa jam lagi senja akan datang, dan besok mentari juga akan kembali muncul ke permukaan membawa warna keunguan untuk mengiasi langit.”

“Kau masih bisa melakukannya, melihat mereka. Tapi tak untukku.”

Sebin mengernyitkan dahi, terlihat jelas kebingungan menghiasi wajahnya. “Menga—“ Sebin ingin mengungkapkan rasa bingungnya, namun si pirang itu mulai berujar lagi.

“Jika kau terlalu malas, barang bangun pagi untuk melihat keindahan langit ungu. Aku bisa melakukannya.”

“Bukankah kau tak dapat melihat mereka? Mengapa? Dan lalu bagaimana kau ingin melihat mereka?”

Suhyun terlihat manggut-manggut. Suhyun perlu menjawab seluruh pertanyaan Sebin dan tentunya menjelaskan maksud lelaki pirang itu. sejak awal Sebin selalu memendam beribu-ribu pertanyaan yang ingin ia haturkan pada lelaki pirang di depannya, lelaki ini terlalu misterius dan menarik.

“Ya, aku tak dapat melihat mereka. Aku bisa melihatkan fajar padamu, ya... tentunya dengan bantuan matamu.”

“Bisakah aku meminjamnya?”

“Hanya ingin melihat satu Fajar dan satu Senja. Bolehkan?”

Aku memiliki mata untuk melihat...
Aku melihat, melihat dunia, dan kau Sebin...
Yang bisa ku bedakan hanya hitam dan putih...
Langit siang yang putih, langit malam yang hitam...
Namun ada pengecualian untuk fajar dan senja, mereka terlihat sama...
Jadi pinjamkan aku matamu, untuk satu fajar dan satu senja...

End...

Selamat membaca. Terima kasih telah membacanya hingga akhir. Silahkan tinggalkan komen apa aja, kritik, saran, atau apapun itu// kalau nggak mau juga nggak apa apa~. Semoga tidak jera membaca ff saya. Thanks~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar