Please Stop : Following Me by SeeMe
PG15 //Teen and Up// Ficlet//AU,
Fantasy, !Fairytale, Supranatural
Cast : Sanghyun dan Hyeokjin of
A.Cian
(Mereka bukan milik saya. Milik
saya hanya plot cerita ini. Saya tidak berniat menimbulkan kerusakan karakter, salam.)
o
“Kenapa mengejarku?!” teriak
Sanghyun di sela nafasnya yang putus-putus akibat berlari. “Kumohon berhenti
mengikutiku!” pekiknya frustasi.
Sudah lama ia tidak berlari
secepat itu—ralat, Sanghyun memang jarang berlarian selama hidupnya. Tapi entah
kenapa ia spontan berlari saat bertemu dengan sosok itu di pinggir hutan.
Instingnya mengatakan bahwa sosok itu berbahaya. Entah kenapa.
Sanghyun segera berbelok ke kanan
dan menyembunyikan dirinya di antara semak lebat, ia mengintip hati-hati.
Keringat mengalir deras melintasi wajahnya, rambut keriting—yang sudah
ditatanya sejak pagi—sudah kehilangan gelombangnya.
Mata cokelat madunya bergerak
liar kesana kemari, mulutnya menyumpah pelan saat telinganya mendengar langkah
kaki mendekati tempatnya bersembunyi. Beberapa detik kemudian sosok bertudung
merah itu terlihat, sosok itu berhenti tepat sepuluh depa di depannya.
Sosok bertudung merah itu
terlihat mencari keberadaan Sanghyun, meski separuh wajahnya tertutup oleh
tudung, namun Sanghyun masih dapat melihat senyum miring yang menghiasi wajah
orang itu.
“Percuma kau bersembunyi, aku
bisa mengendus aromamu” ujar sosok bertudung merah. Nafas Sanghyun terhenti
kaget, detik berikutnya ia mengutuk dalam hati—lupa bahwa dialah yang bisa
mencium aroma, bukannya si tudung merah—yah setidaknya itu yang ia ketahui.
“Aroma ketakutanmu benar-benar
bisa tercium loh” tambah sosok bertudung merah.
“Pembual” gumam Sanghyun pelan. Ia
menutup mulutnya yang mengoceh tidak tahu situasi. Diliriknya sosok bertudung
itu, takut kalau-kalau sosok itu menyadarinya. Sanghyun masih tidak mengerti
kenapa ia bisa dikejar oleh sosok bertudung itu, memangnya salahnya apa!
Ekornya bergerak tak karuan,
menimbulkan bunyi saat bersentuhan dengan dedaunan kering. Sanghyun menangkap ekornya,
menyumpahi kebiasaan buruk ekornya bergerak sendiri saat ia ketakutan.
Telinganya menangkap suara tapak kaki—mendekat, terlambat!
o
Sanghyun bersandar pada pohon
yang ada di belakangnya, ekornya tidak lagi bergerak, tangannya menekan
perutnya. Sanghyun mengeryit, perutnya terasa sakit. Ia terperajat mendapati
darah mengalir dari luka yang ada di perutnya, cukup besar.
Tidak mungkin!
Tidak pernah ada satupun senjata
yang dapat melukai manusia serigala.
Suara langkah kaki kembali
terdengar, sekuat tenaga Sanghyun mencoba mendongakkan kepalanya. Di depannya
sosok bertudung merah—lagi-lagi tersenyum miring, seraya menimang-nimang sebuah
pedang berwarna merah, semerah darah namun lebih pekat.
Jarak mereka hanya beberapa
langkah, Sanghyun memicingkan matanya, mencoba melihat wajah di balik tudung
merah itu. Sayangnya, cahaya jingga senja di belakang sosok itu mengaburkan
pandangannya.
Sosok bertudung merah itu
terkekeh pelan, ia membuka tudungnya, “Kau mengenaliku sekarang?”
“Hyeokjin!”
“Salam, Sanghyun” sosok itu
membungkukkan badannya sedikit, ujung pedangnya menyentuh tanah menimbulkan
suara gesekan.
Mata Sanghyun beralih pada pedang
itu, pedang yang berhasil melukainya. Menyadari hal itu, Hyeokjin mengangkat
pedangnya, membolak-balikkan pedang itu.
“Cantik, kan? Ini dibuat langsung
dari darahku”
Darah?
“Perlu bertahun-tahun membuatnya,
tapi tidak masalah. Ini sepadan” ujarnya seraya menatap luka yang ada di perut
Sanghyun. “Menakjubkan, bukan? Benda ini bisa melukai seorang manusia serigala”
Sanghyun menelan air liurnya
susah payah.
“Hyeokjin, kau—sebenarnya siapa?”
Sosok bertudung merah itu
tertawa, tawa yang kosong.
“Benar aku Hyeokjin, aku siapa?
Aku adalah kaum Tudung Merah”
Sanghyun terperanjat, tiba-tiba
potongan-potongan suara neneknya melintas di benaknya. Potongan-potongan cerita
sejarah—yang Sanghyun kira bagian dari dongeng—yang dituturkan neneknya setiap
malam, tentang kaum Tudung Merah yang memburu mereka. Kaum yang ia kira hanya
bualan neneknya.
“Mereka membenci kita”
“Mereka ingin melenyapkan manusia serigala”
“Mereka begitu kuat, pedang mereka mengerikan!”
“Kakekmu dan teman-temannya berhasil mengalahkan mereka”
“Kaum Tudung Merah sudah punah”
“Kaum Tudung Merah sudah punah”
ulang Sanghyun.
“Punah? Jahat sekali. Sampai
kapanpun kaummu memang yang paling jahat. Tapi sayang sekali, aku masih hidup.
Tepat di depanmu!” sahut Hyeokjin.
“Kenapa kamu menyembunyikan identitas
aslimu dari kami?”
Hyeokjin menatap Sanghyun, mata
Hyeokjin yang semerah rubi itu baru disadari Sanghyun. Dilihat sekilas orang
pasti akan mengira Hyeokjin adalah manusia peri, tapi siapa sangka dia adalah
bagian dari kaum pembantai manusia serigala—kaum Tudung Merah.
“Kenapa? Sanghyun temanku, kalau
kuberitahu pada kalian. Aku pasti tidak bisa melakukan niatku ini. Aku sudah
katakan, kalau perlu waktu bertahun-tahun menyempurnakan pedang indah ini”.
Hyeokjin mengelap pedangnya dengan sapu tangan merah, ia membolak-balikkan
pedang itu mencari sisi yang belum dibersihkan.
“Niat?”
Meski merasa pening akibat
kekurangan darah, Sanghyun masih mencoba sekuat tenaga berbicara.
“Membasmi para manusia serigala”
Tercekat.
Entah bagaimana tepatnya perasaan
Sanghyun saat ini, kaget, bingung, ketakutan, marah, yang ia tahu ia merasa
sedih.
“Apa salah kami padamu?”
Hyeokjin tertawa sumbang
mendengarnya. Sinar mentari senja jatuh tepat di wajahnya, membuat wajah putih
itu berkilau keemasan. Kenapa Sanghyun baru menyadarinya sekarang, warna putih
kulit Hyeokjin—terlalu pucat.
Ada jeda hening setelah tawa itu,
Hyeokjin tersenyum miring. “Salah? Tanyakan pada kaummu apa yang telah mereka
perbuat pada kami!” Mata merah rubi itu dipenuhi amarah, memberikan kesan bahwa
iris itu memerah karena dibasuh oleh darah.
“Itu karena kalian yang mulai
memburu kami”
Lagi-lagi Hyeokjin tertawa
kosong, “Naif sekali. Kau percaya pada omong kosong itu?”
“Lalu sebenarnya apa yang benar?”
“Kau tahu, berbicara denganmu
saat ini hanya membuang waktuku”
“Aku pikir kita teman” gumam
Sanghyun di sela nafasnya yang tersengal. Kepalanya sudah terasa berputar-putar
kehilangan orientasi. Ia menyandarkan kepalanya, menahan diri agar tidak
menutup matanya.
“Teman? Hahaha, kau benar. Karena
itulah temanku, maka aku berikan kau kesempatan pertama mencicipi pedangku. Bukankah
aku teman yang baik?” Hyeokjin mengarahkan pedangnya tepat ke arah Sanghyun.
“Setelah ini aku akan menyapa
orang-orang di desa”. Hyeokjin mengayunkan pedangnya.
Sanghyun tertawa kosong, ia menutup
matanya seiring mentari yang menghilang di balik punggung sosok bertudung merah
dengan pedang merah darah di tangan.
©2016
a/n
Cerita ini terpikirkan
saat membaca (ulang) fairytale Gadis Bertudung Merah,
lalu kepikiranlah, gimana kalau yang berbahaya itu tudung merah,
bukan si serigalanya
hahahhaha
lalu kepikiranlah, gimana kalau yang berbahaya itu tudung merah,
bukan si serigalanya
hahahhaha
Terimakasih
sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Sekian//tebardollar
Salam...
Salam...
֎֍SeeMe֎֍

Tidak ada komentar:
Posting Komentar