Senin, 18 Juli 2016

Ficlet : Please Stop - Following Me




Please Stop : Following Me by SeeMe
PG15 //Teen and Up// Ficlet//AU, Fantasy, !Fairytale, Supranatural
Cast : Sanghyun dan Hyeokjin of A.Cian
(Mereka bukan milik saya. Milik saya hanya plot cerita ini. Saya tidak berniat menimbulkan kerusakan karakter, salam.)

o

“Kenapa mengejarku?!” teriak Sanghyun di sela nafasnya yang putus-putus akibat berlari. “Kumohon berhenti mengikutiku!” pekiknya frustasi.

Sudah lama ia tidak berlari secepat itu—ralat, Sanghyun memang jarang berlarian selama hidupnya. Tapi entah kenapa ia spontan berlari saat bertemu dengan sosok itu di pinggir hutan. Instingnya mengatakan bahwa sosok itu berbahaya. Entah kenapa.

Sanghyun segera berbelok ke kanan dan menyembunyikan dirinya di antara semak lebat, ia mengintip hati-hati. Keringat mengalir deras melintasi wajahnya, rambut keriting—yang sudah ditatanya sejak pagi—sudah kehilangan gelombangnya.

Mata cokelat madunya bergerak liar kesana kemari, mulutnya menyumpah pelan saat telinganya mendengar langkah kaki mendekati tempatnya bersembunyi. Beberapa detik kemudian sosok bertudung merah itu terlihat, sosok itu berhenti tepat sepuluh depa di depannya.

Sosok bertudung merah itu terlihat mencari keberadaan Sanghyun, meski separuh wajahnya tertutup oleh tudung, namun Sanghyun masih dapat melihat senyum miring yang menghiasi wajah orang itu.

“Percuma kau bersembunyi, aku bisa mengendus aromamu” ujar sosok bertudung merah. Nafas Sanghyun terhenti kaget, detik berikutnya ia mengutuk dalam hati—lupa bahwa dialah yang bisa mencium aroma, bukannya si tudung merah—yah setidaknya itu yang ia ketahui.

“Aroma ketakutanmu benar-benar bisa tercium loh” tambah sosok bertudung merah.

“Pembual” gumam Sanghyun pelan. Ia menutup mulutnya yang mengoceh tidak tahu situasi. Diliriknya sosok bertudung itu, takut kalau-kalau sosok itu menyadarinya. Sanghyun masih tidak mengerti kenapa ia bisa dikejar oleh sosok bertudung itu, memangnya salahnya apa!

Ekornya bergerak tak karuan, menimbulkan bunyi saat bersentuhan dengan dedaunan kering. Sanghyun menangkap ekornya, menyumpahi kebiasaan buruk ekornya bergerak sendiri saat ia ketakutan. Telinganya menangkap suara tapak kaki—mendekat, terlambat!

o

Sanghyun bersandar pada pohon yang ada di belakangnya, ekornya tidak lagi bergerak, tangannya menekan perutnya. Sanghyun mengeryit, perutnya terasa sakit. Ia terperajat mendapati darah mengalir dari luka yang ada di perutnya, cukup besar.

Tidak mungkin!

Tidak pernah ada satupun senjata yang dapat melukai manusia serigala.

Suara langkah kaki kembali terdengar, sekuat tenaga Sanghyun mencoba mendongakkan kepalanya. Di depannya sosok bertudung merah—lagi-lagi tersenyum miring, seraya menimang-nimang sebuah pedang berwarna merah, semerah darah namun lebih pekat.

Jarak mereka hanya beberapa langkah, Sanghyun memicingkan matanya, mencoba melihat wajah di balik tudung merah itu. Sayangnya, cahaya jingga senja di belakang sosok itu mengaburkan pandangannya.

Sosok bertudung merah itu terkekeh pelan, ia membuka tudungnya, “Kau mengenaliku sekarang?”

“Hyeokjin!”

“Salam, Sanghyun” sosok itu membungkukkan badannya sedikit, ujung pedangnya menyentuh tanah menimbulkan suara gesekan.

Mata Sanghyun beralih pada pedang itu, pedang yang berhasil melukainya. Menyadari hal itu, Hyeokjin mengangkat pedangnya, membolak-balikkan pedang itu.

“Cantik, kan? Ini dibuat langsung dari darahku”

Darah?

“Perlu bertahun-tahun membuatnya, tapi tidak masalah. Ini sepadan” ujarnya seraya menatap luka yang ada di perut Sanghyun. “Menakjubkan, bukan? Benda ini bisa melukai seorang manusia serigala”

Sanghyun menelan air liurnya susah payah.

“Hyeokjin, kau—sebenarnya siapa?”

Sosok bertudung merah itu tertawa, tawa yang kosong.

“Benar aku Hyeokjin, aku siapa? Aku adalah kaum Tudung Merah”

Sanghyun terperanjat, tiba-tiba potongan-potongan suara neneknya melintas di benaknya. Potongan-potongan cerita sejarah—yang Sanghyun kira bagian dari dongeng—yang dituturkan neneknya setiap malam, tentang kaum Tudung Merah yang memburu mereka. Kaum yang ia kira hanya bualan neneknya.

“Mereka membenci kita”

“Mereka ingin melenyapkan manusia serigala”

“Mereka begitu kuat, pedang mereka mengerikan!”

“Kakekmu dan teman-temannya berhasil mengalahkan mereka”

“Kaum Tudung Merah sudah punah”

“Kaum Tudung Merah sudah punah” ulang Sanghyun.

“Punah? Jahat sekali. Sampai kapanpun kaummu memang yang paling jahat. Tapi sayang sekali, aku masih hidup. Tepat di depanmu!” sahut Hyeokjin.

“Kenapa kamu menyembunyikan identitas aslimu dari kami?”

Hyeokjin menatap Sanghyun, mata Hyeokjin yang semerah rubi itu baru disadari Sanghyun. Dilihat sekilas orang pasti akan mengira Hyeokjin adalah manusia peri, tapi siapa sangka dia adalah bagian dari kaum pembantai manusia serigala—kaum Tudung Merah.

“Kenapa? Sanghyun temanku, kalau kuberitahu pada kalian. Aku pasti tidak bisa melakukan niatku ini. Aku sudah katakan, kalau perlu waktu bertahun-tahun menyempurnakan pedang indah ini”. Hyeokjin mengelap pedangnya dengan sapu tangan merah, ia membolak-balikkan pedang itu mencari sisi yang belum dibersihkan.

“Niat?”

Meski merasa pening akibat kekurangan darah, Sanghyun masih mencoba sekuat tenaga berbicara.

“Membasmi para manusia serigala”

Tercekat.

Entah bagaimana tepatnya perasaan Sanghyun saat ini, kaget, bingung, ketakutan, marah, yang ia tahu ia merasa sedih.

“Apa salah kami padamu?”

Hyeokjin tertawa sumbang mendengarnya. Sinar mentari senja jatuh tepat di wajahnya, membuat wajah putih itu berkilau keemasan. Kenapa Sanghyun baru menyadarinya sekarang, warna putih kulit Hyeokjin—terlalu pucat.

Ada jeda hening setelah tawa itu, Hyeokjin tersenyum miring. “Salah? Tanyakan pada kaummu apa yang telah mereka perbuat pada kami!” Mata merah rubi itu dipenuhi amarah, memberikan kesan bahwa iris itu memerah karena dibasuh oleh darah.

“Itu karena kalian yang mulai memburu kami”

Lagi-lagi Hyeokjin tertawa kosong, “Naif sekali. Kau percaya pada omong kosong itu?”

“Lalu sebenarnya apa yang benar?”

“Kau tahu, berbicara denganmu saat ini hanya membuang waktuku”

“Aku pikir kita teman” gumam Sanghyun di sela nafasnya yang tersengal. Kepalanya sudah terasa berputar-putar kehilangan orientasi. Ia menyandarkan kepalanya, menahan diri agar tidak menutup matanya.

“Teman? Hahaha, kau benar. Karena itulah temanku, maka aku berikan kau kesempatan pertama mencicipi pedangku. Bukankah aku teman yang baik?” Hyeokjin mengarahkan pedangnya tepat ke arah Sanghyun.

“Setelah ini aku akan menyapa orang-orang di desa”. Hyeokjin mengayunkan pedangnya.

Sanghyun tertawa kosong, ia menutup matanya seiring mentari yang menghilang di balik punggung sosok bertudung merah dengan pedang merah darah di tangan.

©2016
a/n
Cerita ini terpikirkan saat membaca (ulang) fairytale Gadis Bertudung Merah,
lalu kepikiranlah, gimana kalau yang berbahaya itu tudung merah,
bukan si serigalanya
hahahhaha
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Sekian//tebardollar
Salam...
֎֍SeeMe֎֍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar