Love Letter by SeeMe
PG15 // Ficlet//AU, Romance,
Sad?(entahlah
saya payah dalam pengklasifikasian genre)
(Tiada yang milik saya selain
plot cerita ini. Saya tidak berniat menimbulkan kerusakan karakter, salam.)
o
Ter untuk Woohyun
o
Hai Woohyun, apa aku sudah
lancang menuliskan surat ini padamu? Surat cinta? Ah tidak sepenuhnya benar.
Masih ingat pertanyaanmu waktu
itu, tentang cinta pertama? Klise sekali pertanyaanmu Woohyun, mana mungkin aku
pernah merasakannya? Mana mungkin aku pernah menjamah rasa itu jika kamu selalu
kabur menghindar saat aku coba mengungkitnya.
Apa aku menyukaimu? Lagi-lagi
pertanyaanmu membuatku sedih. Mana berani aku?
Ingat tidak waktu kita—ah maaf,
maksudku sewaktu kamu dan teman-temanmu pergi berlibur, sebenarnya aku mengikutimu.
Tapi saat kita bertemu di suatu perempatan, aku berdusta.
Aku mengaku hanya ikut teman.
Bah, teman macam apa. Tidak ada yang sudi berteman denganku. Kau pun tahu itu.
Namun, kamu menerima saja jawabanku saat itu. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa kamu
lakukan itu?
Meski kamu tidak menyadarinya,
tapi kita selalu berada di sekolah yang sama. Kebetulan? Woohyun, tidak ada
yang namanya kebetulan di dunia ini. Percayalah.
Hanya saja aku selalu kurang
beruntung, aku tidak pernah bisa berada di kelas yang sama denganmu. Rasanya
ingin marah saja. Tapi marah pada siapa? Toh tiada yang peduli.
Atau memang sudah takdirnya kamu
berada di batas yang tak bisa kusentuh? Takdir? Apa kamu percaya padanya, Woohyun?
Aku tidak.
Aku masih ingat bagaimana
pertemuan kedua kita di kelas setelah percakapan aneh di perempatan itu. Aku
sedang—yah kamu pun akan tahu dengan sekali lihat.
Di kelas, saat istirahat tiba aku
sedang mengerjakan tugas, tugas siapa? Yang pasti bukan aku, Woohyun. Tapi mana
mungkin kujawab seperti itu. Kukatakan aku lupa mengerjakannya di rumah. Kamu
lagi-lagi menerimanya, meski kudapati kedua alismu mengkerut tak terima.
Kamu pergi dengan senyum kikuk,
aku apalagi.
Hyunrae memarahiku. Katanya aku
harus sadar diri. Memangnya kapan aku tidak sadar diri, Woohyun? Pernahkah
sekali kamu melihat aku bertingkah melampaui yang seharusnya? Dia memakiku, di
depan umum. Aku hanya diam, sudah biasa. Tapi rasanya telingaku tidak mau kompromi,
mereka memerah—ah, maksudku terasa panas.
Woohyun. Hyunrae menyukaimu. Apa
kamu tahu hal itu? Mana berani aku bertanya seperti itu. Aku takut dengan
jawabannya. Banyak pria memujanya, aku bahkan tidak bisa lagi menghitung berapa
pria yang datang pada malam minggu yang lalu-lalu. Begitu banyak, begitu
memuakkan. Apa kamu juga sama?
Lupakan saja tentang Hyunrae.
Ingat saat hari bersih-bersih?
Aku menumpahkan air pel di kepalamu. Astaga, aku tidak bermaksud! Saat itu kamu
hanya tertawa. Aku begitu lega mendengarmu bilang itu tidak masalah. Senyumanmu
saat itu begitu hangat, namun aku merasa kedinginan. Mereka mengguyurku,
ngomong-ngomong. Mengunciku di gudang juga.
Mereka siapa? Aku tidak bisa
memberitahumu. Mengapa? Karena tidak akan ada yang percaya padaku Woohyun. Ah
aku tahu kamu berbeda, tapi aku jadi semakin tidak berani mengatakannya. Mereka
itu...
Maaf ya, apa darahku
mengganggumu? Atau malah terasa jijik? Tapi mau bagaimana lagi, Woohyun. Aku
tidak punya cukup banyak waktu untuk menuliskan yang baru, kuharap kamu bisa
terima. Darahnya menetes tanpa izinku. Seharusnya aku perban dulu, tapi nanti
aku tidak sempat menuliskan surat untukmu—keadaannya tidak memungkinkan untuk
itu.
Oh ya, kenapa aku menulis ini?
Sebenarnya ada banyak yang ingin
kukatakan kepadamu. Banyak sekali. Tapi rasanya tiada pantas untuk kutuliskan
padamu.
Bagaimanapun rasanya aku begitu
buruk dan tiada tahu diri. Aku selalu mengikutimu. Menakutkan, ya? Itu sebabnya
aku tidak pernah bilang. Aku juga tidak bisa mengatakan apa yang kurasakan
kepadamu.
Juga ada banyak yang ingin
kutanyakan, tapi aku tak tahu harus memulainya darimana. Haruskah kumulai dari
pertanyaan ‘kenapa?’
Dan aku jadi lupa ingin bertanya
apa, suara gaduh di bawah benar-benar menggangguku. Apalagi teriakan Hyunrae.
Apa kamu ingat betapa
melengkingnya suara perempuan itu? Tapi yang tadi kudengar adalah yang ter-dan
terpaling nyaring yang bisa dikeluarkan olehnya. Kalau kamu mendengarnya aku
yakin kamu akan menutup telinga, gunakan penyumbat telinga saja saranku.
Ini menakutkan, Woohyun.
Sekarang hening.
Apa Hyunrae sudah...
Ah, lagi-lagi darahku menetes.
Maaf.
Woohyun, aku mendengar langkah
kaki. Menapaki tangga. Apa orang itu tahu kalau aku bersembunyi di loteng? Bodohnya
aku, dia pasti tahu, tetesan darah dari kepala, kaki, dan perutku pasti
menuntunnya ke atas sini. Aku mendengar langkah itu berhenti di depan pintu.
Kenapa dia belum memutar ganggang pintu, Woohyun? Ini malah semakin menakutiku.
Sepertinya waktuku tidak banyak
lagi. Yang sebenarnya ingin kukatakan.
Aku menyukaimu.
Aku akhirnya berani
memberitahumu, karena sudah tidak ada lagi yang perlu kupikirkan selain dirimu.
Tidak ada lagi Hyunrae yang akan marah jika aku berani mengatakan hal itu.
Tidak ada lagi orang tua yang akan memakiku tak tahu diri, merebut milik
putrinya, katanya. Memangnya aku bukan?
Ah, jangan pedulikan aku. Dari
dulu memang tiada yang peduli.
Ngomong-ngomong, kamu terlihat
keren dengan kemeja hitam itu. Jaket kulitmu juga cocok. Tapi sepatu boot-mu
membuat bunyi yang menakutkan. Dan pisau yang kamu bawa juga menakutiku, terlihat
tajam dan memang tajam sekali.
Aku ingin bertemu denganmu.
Tidak apa-apa. Toh, sebentar lagi
kamu akan membuka pintu itu, kan?
Pada kenyataannya bila aku tidak
sempat berbicara lagi saat itu, biarlah surat ini yang sampai kepadamu.
Salam, dariku yang tetap
memujamu.
Ma Hyunmi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar