Rabu, 29 Juni 2016

Oneshoot : Rain Man - Storm



Rain Man : Storm

By Tainn

G//One Shot? Contain 1262 words//AU//Fantasy//Supernatural//?

Cast : 13 Member Seventeen.

<Mereka bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya. Tidak bermaksud untuk membuat kerusakan karakter.>

Ribuan liter air menghujam paras lelaki itu. Walau demikian, tak menyurutkan semangat lelaki tinggi itu untuk tetap berusaha membuat penampilannya sempurna. Hembusan air itu menjauh, menyisakan lembab di wajah lelaki kelahiran 96 itu. Air itu masih mangalir melalui rambut kecoklatan sang lelaki, dan jatuh secara bergantian menyusuri postur wajah lelaki itu, menuruni cekungan matanya menaiki bukit –pipinya dan turun hingga menyentuh kemeja putihnya yang basah.

Dengan salah satu tangannya, lelaki itu mengusap rambut kecoklatannya, mengusap dari rambut di depan wajahnya hingga ke ubun-ubunnya dengan arah vertikal sembari masih menunjukkan parasnya yang mempesona.

"Yak! Sial!" Terdengar umpatan dari sisi kanan sang lelaki. "Ya! Wen Junhui!" Memanggil atensi lelaki asal shenzhen itu. "Berhentilah bergaya! Kau kira kita lagi photoshoot?" Terdengar suara karibnya yang dipenuhi kekesalan, sambil sesekali mengambil napas ketika air bah itu menjauh.

"Kita lagi di tengah banjir bandang Wen Jun Hui!" Lelaki chubby itu sudah cukup kehilangan kesabarannya.

Suara dentuman keras dari balik langit, diiringi cahaya jatuh yang berasal dari awan, badai tiba. Seungkwan mempererat pegangannya pada lelaki yang terpaut lebih tua darinya sekitar dua tahun, melingkarkan lebih kuat kedua lengannya pada pinggang sang karib.

"Junhui." Sosok lain mengalihkan atensi Jun. Temannya yang lain, "Aku memang menyukai hujan, tapi tak yang sebesar ini." Lelaki asal benua Amerika itu berpegangan pada balok kayu yang mengapung, badannya terombang-ambing mengikuti ritme gelombang air.

Jun tertawa kecil mendengar pernyataan kawannya yang kini seperjuangan bersamanya berjuang bertahan hingga banjir reda—.Sejemang kemudian Jun teringat akan pengalamannya ditinggal sang kawan –Joshua – yang sedang pendekatan dengan seorang gadis, sementara dirinya hanya dibekali payung berenda seperti payung Nona Belanda oleh sang kawan.

Barulah ia tersadar dari perkataan hyung Amerika-nya itu. "Apa kau pikir aku yang menimbulkan badai ini, hyung?" Bukan sebuah pertanyaan sebenarnya, lebih pada peluapan amarah lelaki Cina ini. Sementara orang yang dimaksud telah meluncur dengan mulusnya menjauh, menuju tempat antah-berantah, terlalu sulit bagi Jun mengetahui tempat yang telah luluh lantah ini.

Sesosok gadis muncul ke permukaan, cukup mengerikan dengan kondisi wajahnya yang dipenuhi rambut panjangnya –Jun cukup was-was jika saja kemampuan indra keenamnya berfungsi sekarang. "Jun-ie... kau membuat rambut berkilau-ku bersua dengan lumpur-lumpur ini."  Jun mengucap syukur dalam hati, terlihat senyum mengembang dari bibir kecil Jun setelah gadis itu menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi paras tampannya.

"Jeonghan hyung!" –sepertinya bukan seorang gadis –.

 Jun mengeraskan suaranya agar mencapai pendengaran lelaki cantik itu yang tengah hanyut dibawa arus. "Bukan aku yang membuatnya! Kau kira aku Poseidon? Aku hanya menyebabkan hujan! Sungguh!" Jun meyakinkan. Jun akhirnya menyadari statusnya sebagai seorang Rain Man.

"Ya! Hari ini jadwal kita padat! Bisakah kau cancel acara hanyut-hanyutan ini?" Jun hanya dapat mengernyitkan dahinya –bingung –menanggapi sang pemimpin yang mengkhawatirkan keselamatan karir grupnya. Kondisi Seungcheol lebih baik dari ketiga temannya yang lain.

Seungcheol mengikatkan ujung tali pada sebatang pohon dan ujung lainnya ia ikatkan melingkari tubuhnya. Seungcheol lantas meluncur menerjang arus menyelamatkan kawannya yang hanyut.

"Ba~dai!!" Disisi lain lelaki sipit memilih menyenandungkan sebuah lagu. Sepertinya Soonyoung benar-benar ingin masuk team vocal jika ia selamat kali ini.

"Junhui-hyung! Thanks untuk lulur lumpur ini! Bukankah lulur ini akan memutihkan?" Mingyu sedang dalam misi diselamatkan sang pemimpin Choi Seungcheol.

Jun mengernyitkan keningnya lagi. Padahal maksudnya kemarin mengatakan tentang lulur itu hanya sekedar guraun yang garing, namun sepertinya Kim mingyu mempercayainya. Jun memilih untuk diam seolah tak bersalah, ia tak ingin lelaki berkulit tan itu melantunkan ceramahnya.

"Jun-hyung! Celenganku akan segera ku ambil! Aku yakin pohonnya sudah tak tinggi lagi bukan? Badaimu sangat berguna!" Di sisi lain, sang maknae merasa bersyukur akan bencana ini. Jun sudah tak sanggup harus mengatakan pada semuanya bahwa bukan ia penyebab semua ini, Sungguh.

Jun tersenyum tipis mendengar pernyataan terima kasih dari sang maknae. Jun ingat sangat dengan celengan dinasaurus milik Lee chan, celengan ajaib yang tiba-tiba telah berada di dahan pohon yang dipenuhi serangga merah.

"Ah! Jihoon-hyung!" Pekik Chan seketika itu juga ketika melihat kelakuan hyung kecilnya yang mengapung dengan memeluk celengan miliknya, dengan wajah polosnya. Dan yang terlihat kini adalah aksi kejar-kejaran dua lelaki pendek itu, ditengah banjir bandang.

Sepertinya air bah ini mengandung zat tertentu, Jun tak habis pikir mengapa para karibnya terlihat aneh kini, kecuali-

"Dowa Jusèyo! (Tolong bantu saya)" Lelaki cina dengan matanya yang besar masih memiliki kesadaran penuh, walau tak ketinggalan nada bicaranya yang terdengar cute ketika harus mengucapkan bahasa tempat ia terhanyut sekarang.

Seokmin hanyut dengan tenang sembari menunjukkan sederetan gigi putihnya yang bersinar ketika harus bertemu cahaya mentari secara radiasi. Seungkwan tak bisa menahan lagi, ombak yang cukup besar membuatnya kehilangan kekuatan untuk terus memeluk Jun dari belakang, sial! . Ia harus mengikuti jejak hyung-nya yang lain, terhanyut dalam gelombang air bah.

Alhasil hanya beberapa dari mereka yang selamat. Tak lebih dari separuh anggota. Jun, Mingyu –yang diselamatkan Seungcheol–, Sang pemimpin, Hansol dan Jeon Won woo. Air bah lama-kelamaan mulai surut, meninggalkan puing-puing kota yang berhambur.

“Tak apa! Kita masih bisa comeback dengan member yang tersisa.” Seungcheol terlihat puas.

"J-junhui." Suara terbata-bata berhasil mengambil alih atensi keempat lelaki lainnya. Sorot mata tajam dari empunya suara berat itu mengarah pada reruntuhan itu.

Lantas tak perlu waktu lama bagi yang lain untuk mengarahkan pandangannya pada titik yang sama pada lelaki bermarga Jeon itu.

Makhluk tak bernyawa itu berjalan dengan gontai menuju makhluk hidup yang tersisa, dan itu artinya Jun dan teman-teman. Makhluk tak bernyawa itu, Seokmin dengan senyuman khasnya, Jeonghan dengan helaian rambutnya yang kini berwarna kecoklatan, Chan dengan celengan dinosaurusnya yang ia dapatkan setelah mengalahkan hyung-nya dalam gulat di tengah badai, serta tak lupa si chubby Seungkwan, dan yang lain Joshua dan Myunghoo.

"Kita akan melawannya?" Seungcheol terlihat mengambil kuda-kuda siap untuk mengeluarkan jurus-jurus yang selama ini ia pelajari di dorm. Namun dari ekspresi wajah dan intonasi suaranya terlihat dan terdengar jelas keraguan di sana.

"Habislah kita." Suara berat Jeon won woo, badannya siap berbalik arah dan berlari kencang.

"Berdasarkan jumlah, kita kalah." Hansol mencoba menambahkan. Yang malah membuat rasa pesimis menjalari tubuh keempat lelaki itu.

"Lari." Tanpa aba-aba yang jelas, Wonwoo dan lelaki tan itu berlari secepat kilat, disusul Hansol.

Sejemang kemudian Jun mencoba menyusul, namun sayangnya mayat hidup itu telah menjangkau tubuhnya. Jun terjerembap. Ia jatuh tersungkur mencium bau khas tanah lumpur, dan kesalnya lagi lumpur kecoklatan itu mengkotori wajah Jun –hal yang benar-benar Jun tak sukai.

Layaknya api ungun, Jun dikelilingi mereka. Mereka yang tak bernyawa lagi dan hanya tinggal raga yang kosong. Tatapan dingin mereka membuat Jun takut –lebih dari rasa takutnya kehilangan paras rupawannya. Tatapan dingin mereka seperti ingin melakukan kanibalisme padanya,  menghabisi otak kecil Jun –apakah ini termasuk kanibalisme? Jun membatin –.

Jun takut, ia tak ingin mati dengan menjadi santapan member seventeen. Ia hanya bisa memejamkan mata sembari tak henti-hentinya berharap keajaiban memihaknya.

"Junhui!"

"Ya! Junhui!"

"Wen jun hui!"

Seseorang memanggilnya, terdengar sangat jelas. Dengan keberanian yang tersisa, Jun membuka kedua matanya perlahan. Cahaya silau menyapanya lebih dulu, mencoba menghindar Jun berpaling. Jeon Won Woo duduk di atas tempat tidur dengan kakinya yang menjuntai panjang menyentuh permukaan lantai yang dingin, sorot matanya yang tajam tak ketinggalan.

"Ya! Bangunlah! Kau ingin aku menghabiskan satu ember besar air untuk membangunkanmu?" Seungkwan menggerutu.

Mimpi? Suara dari dalam batin Jun. Tentu saja! Jun tertawa garing. Seungkwan melangkah menjauh setelah manik coklatnya bertemu dengan manik lelaki Cina itu.

“Aku bermimpi sesuatu yang aneh.”

Atensi Jun teralihkan, pada lelaki berdarah campuran itu. Hansol mengaruk-garuk kepalanya, merasa ada yang salah dengan ingatannya di dunia mimpi.

“Badai?” Jeon wonwoo angkat bicara. Membuat Jun harus memutar kepalanya ke arah yang berlawanan.

“Kau pikir itu mimpi?”

“Mimpi?”

Jun tercengang. Diujung kaki lelaki bermarga Jeon itu. Cairan kental mengalir –entah dari mana –dan berakhir di ujung jemari kaki lelaki itu, lalu meninggalkan bercak kecoklatan di permukaan lantai keramik.

Air bah?

Apa ini mimpi?

Atau kenyataan?


The End.

Cerita ini kebayang waktu ada ujan lebat beberapa hari di beberapa wilayah Indonesia//ngaak nyambung!

Sedikit bingung milih judulnya mau Storm ato Nightmare//Curhat dikit//
Oke sekian! Thanks buat everybody yang udah baca! Semoga nggak jera! Komen dinanti!

Ficlet : Oppa



[Ficlet] Oppa!


byTainn
Lee Ji hoon(Seventeen) & Aku (OC)
PG-13//Friendship//school life//AU//Romance
Lee Ji Hoon bukan milik saya. Saya hanya meminjam tokoh/karakter untuk kepentingan cerita. Hanya mengklaim plot, isi cerita, dan poster milik saya. Saya tidak bermaksud menyebabkan kerusakan karakter dan mengambil keuntungan dari itu.
-o0o-
“Jadi, kau akan memanggilku Oppa?”
-o0o-
Aku menghentikan langkahku, dengan langkah terakhir yang ku hentakan dengan keras sebagai pelampiasan kekesalanku. Aku berbalik. Laki-laki itu tepat berada di belakangku. Laki-laki pendek berambut ungu.
“Mengapa kau mengikutiku, Ji hoon?” tanyaku dengan nada kesal.
Oppa! Oppa Ji hoon!” Ji hoon merajuk.
“Sudah berapa kali ku katakan?” suaraku menaik, “Umur kita sudah sama!” emosiku mulai melunjak.
“Tapi... aku lahir satu tahun lebih awal darimu!” Sanggah Ji hoon mencoba membela diri.
“Tapi kau telah meninggal satu tahun yang lalu!” aku terbawa emosiku hingga tak sengaja mengatakannya. Wajahnya terlihat sedih.
Ji hoon? Aku sama sekali tak bermaksud... maaf jika aku membuatmu sedih lagi...
Aku mencoba menunjukkan wajah memelas memohon ampunnya. Ia tertunduk sejenak menatap tanah tempat aku berpijak sekarang, terlihat kakinya menggambang di udara.
Ne.” Ia menganggkat kepalanya dan menatapku. Tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kiri.
“Apa hanya karena itu umurku tak bertambah?” ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Umur di hitung sejak kau lahir sampai kau...” aku tak sanggup mengatakannya, terlalu takut jika ia teringat kembali. “Jadi sekarang umur kita sama.” Aku melanjutkan melukiskan langkah di tanah berbatu.
“Kau bisa melihatku. Dan aku masih disini. Itu artinya aku masih hidup, kan?” Ji hoon melayang dengan cepat, ia berhenti di depanku.
“Di dunia lain, Ji hoon!” tanpa berhenti, aku melewatinya yang tembus pandang. Tanpa berpaling sedikitpun untuk menatapnya.
“Tapi...” Ji hoon memasang wajah memelas.
“Sudahlah lupakan!” aku mengambil langkah kaki yang lebih cepat, mencoba meninggalkannya lebih jauh.
Gagal. Ia melayang dengan cepat dan kini berada di sampingku.
“Jadi, kau akan memanggilku, Oppa Ji hoon?” pertanyaan yang sama lagi. Pertanyaan yang sejak kemarin ia tanyakan.
Aniyo!” aku menghentakkan kakiku layaknya seorang prajurit perang, mencoba menggertaknya.
“Ji hoon berhentilah mengajakku berbicara. Bagaimana jika ada yang melihatku? Apa yang akan mereka pikirkan?” mungkin saja nanti aku di sangka orang sakit jiwa!
Ji hoon tersenyum tipis. “Jadi, kau akan memanggilku Oppa?” ia memasang wajah imutnya lengkap dengan kedua kelopak matanya yang berkedip-kedip cepat.
“...” skakmat. Aku kehabisan kata-kata dan terlalu lelah memberinya penjelasan, ia tak kunjung mengerti, atau pura-pura untuk tak mengerti?
***
Halte bus hari ini terasa sepi. Aku duduk menunggu. Dan dia di sampingku, Ji hoon. “Jadi, kau akan memanggilku Oppa?
“Apa kau tak puas mengganggu ketenangan hidupku di sekolah hari ini?” suaraku terdengar serak, aku sama sekali tak bersemangat kali ini untuk berdebat dengan makhluk pendek ini!
“Aku baru mengganggu ketenanganmu hari ini.” Nada suaranya terdengar serius. Aku menoleh.
“Apa kau ingin balas dendam padaku, karena aku tak memanggilmu Oppa?” aku kembali bersemangat untuk membuatnya kembali seperti biasanya. “Hanya karena itu.. dan kau-” suara terhenti.
“Hanya itu! Dan kau telah mengganggu ketenangan jiwaku?” aku terdiam. Mencoba mencerna kata-katanya.
“Apa maksudmu?” aku dicampakkan. Ia beranjak dan meninggalkanku, melayang dengan lunglai.
“Ji hoon! Kau mau kemana?”
Tanpa berbalik sedikitpun. “Bukankah kau tak ingin aku berada di sampingmu? Bukankah itu mengganggumu?” tanpa berhenti, ia terus melayang dengan menundukkan kepalanya.
Ji hoon...
Ji hoon Oppa...
Aku tak pernah ingin mengatakannya di depanmu... aku takut jika ku katakan kau akan tenang, dan pergi meninggalkanku... apa aku telah salah? Mengapa aku terlalu takut untuk kehilanganmu, lagi?
Fin
By Tainn

Drabble : English Diary



[Drabble] English Diary


Staring : Hong Jisoo (Seventeen), ‘Aku’ (OC)
Genre : AU, Romance, School Live
By Tainn
Disclaimer : Hong Jisoo bukan milik saya, saya hanya meminjamnya untuk mendukung cerita buatan saya.
#
“Kau tak akan mengerti!”
#
Tanganku dengan lincahnya mencoretkan beberapa tulisan dengan tinta hitam di atas kertas putih yang bersih. Disamping kananku terdapat sebuah buku kamus tebal yang sejak tadi terbuka lebar. Sesekali aku menengok ke arah kamus kecil bersampul biru itu, lalu kemudian menulis beberapa kata lagi.
Aku duduk di atas kursi di ruang kelasku, terlihat sangat sibuk. Sebenarnya situasi disini sama sekali tak mendukungku untuk belajar bahasa inggris, di setiap sudut ruang terdengar suara ribut yang benar-benar menggangguku. Ada yang memainkan gitar dan bernyanyi dengan suaranya yang sumbang, ada yang heboh nge-gosip dan lain sebagainya.
Ku letakkan bolpoin hitamku di atas meja, ku letakkan asal. Ku coba meluruskan pinggangku dengan melakukan beberapa gerakan peregangan.
Dengan cepat sebuah tangan seseorang telah menyambar bukuku tanpa meminta izin. Aku mencoba meraih bukuku, namun gagal. Aku mendongak menatap wajah seseorang yang tengah tersenyum bahagia seakan baru dapat kado.
Ia sengaja mengangkatnya setinggi yang ia bisa, benar-benar menghina tinggi badanku. Aku hanya diam duduk di kursi tak menghiraukan senyuman menyebalkannya itu.
“Kau tak akan mengerti,” ujarku dengan nada sombong, yang sebenarnya aku hanya menutupi kekuranganku.
Ia mengernyitkan dahinya, seakan berkata benarkah?
Jisoo. Laki-laki berperawakan tinggi itu adalah laki-laki yang cerdas dan pandai berbahasa.
Kau perlu menerjemahkannya per-kata. Begitulah diriku, benar-benar payah dalam bahasa inggris.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, mencoba menutupi rasa malu, karena seluruh isi buku itu tentangnya.
Ia menatap buku itu sejenak, membacanya. Kumohon! Jangan mengerti! Aku terus berdoa dalam hati.
ia menatapku sejenak. Kau tak mengerti, kan?
Aku balas menatapnya sambil terus berharap dalam hati. Ia meletakkan bukuku ke tempat semula. Hening.
Aku kembali duduk tegap dan kemudian menatap bukuku lagi. Apa kau mengerti?.
Ia menatapku, masih menatapku, hingga membuatku sulit bergerak dan hampir sulit untuk bernapas secara teratur. Kini senyumannya membuat jantungku berdetak kian cepat.
Mengapa ia tersenyum? Apa ia tahu semuanya? Atau itu hanyalah senyum mengejek tulisanku yang aneh?
Tanpa berkata apapun, ia berbalik dan meninggalkanku yang terpaku membeku di tempat. Masih terbayang senyuman terakhir yang ia lantunkan padaku. Jisoo...
Tapi kepergiannya membuatku dapat bernapas lagi. Tapi,
Ia berhenti berjalan dan kemudian berbalik. Aku terkejut.
“Jika kau mau..” ia berhenti sejenak, matanya beralih ke arah yang tak menentu. “Aku bisa mengajarimu,”
Aku masih diam seperti patung, membisu. Ia kembali menatapku dan kemudian kembali meninggalkanku. Jisoo?
-End-

Thanks banget bagi yang udah baca!! J maafkan daku yang masih pemula.. hehehe!
Maaf... >_<” jika ceritanya agak aneh.. dan endingnya gantung banget.. maaf juga jikalau ada kesalahan-kesalahan lain..
Tolong tinggalkan komen, ya! Apalagi kalau ada yang mau ngasih saran dan kritik! Mohon bantuannya! Saya masih penulis pemula..