Rain Man : Storm
By Tainn
G//One Shot? Contain 1262
words//AU//Fantasy//Supernatural//?
Cast : 13 Member Seventeen.
<Mereka bukan milik saya.
Saya hanya meminjamnya. Tidak bermaksud untuk membuat kerusakan karakter.>
Ribuan
liter air menghujam paras lelaki itu. Walau demikian, tak menyurutkan semangat
lelaki tinggi itu untuk tetap berusaha membuat penampilannya sempurna. Hembusan
air itu menjauh, menyisakan lembab di wajah lelaki kelahiran 96 itu. Air itu
masih mangalir melalui rambut
kecoklatan sang lelaki, dan jatuh secara bergantian menyusuri postur wajah
lelaki itu, menuruni cekungan matanya
menaiki bukit –pipinya –dan turun hingga
menyentuh kemeja putihnya yang basah.
Dengan
salah satu tangannya, lelaki
itu mengusap rambut kecoklatannya, mengusap dari rambut di depan wajahnya hingga ke ubun-ubunnya
dengan arah vertikal sembari masih menunjukkan parasnya yang mempesona.
"Yak!
Sial!" Terdengar umpatan dari sisi kanan sang lelaki. "Ya! Wen
Junhui!" Memanggil atensi lelaki asal shenzhen itu. "Berhentilah
bergaya! Kau kira kita lagi photoshoot?" Terdengar suara karibnya yang
dipenuhi kekesalan, sambil sesekali mengambil napas ketika air bah itu menjauh.
"Kita
lagi di tengah banjir bandang Wen Jun Hui!" Lelaki chubby itu sudah cukup
kehilangan kesabarannya.
Suara
dentuman keras dari balik langit, diiringi cahaya jatuh yang berasal dari awan,
badai tiba. Seungkwan mempererat pegangannya pada lelaki yang terpaut lebih tua
darinya sekitar dua tahun, melingkarkan lebih
kuat kedua lengannya pada pinggang sang
karib.
"Junhui."
Sosok lain mengalihkan atensi Jun. Temannya yang lain, "Aku memang
menyukai hujan, tapi tak yang sebesar ini." Lelaki asal benua Amerika itu berpegangan
pada balok kayu yang mengapung, badannya
terombang-ambing mengikuti ritme gelombang air.
Jun
tertawa kecil mendengar
pernyataan kawannya yang kini seperjuangan bersamanya –berjuang bertahan
hingga banjir reda—.Sejemang kemudian Jun teringat
akan pengalamannya ditinggal sang kawan –Joshua – yang sedang
pendekatan dengan seorang gadis, sementara dirinya hanya dibekali payung
berenda seperti payung Nona
Belanda oleh sang kawan.
Barulah
ia tersadar dari perkataan hyung Amerika-nya itu. "Apa kau
pikir aku yang menimbulkan badai ini, hyung?" Bukan sebuah pertanyaan
sebenarnya, lebih pada peluapan amarah lelaki Cina ini. Sementara orang yang dimaksud
telah meluncur dengan mulusnya menjauh, menuju tempat antah-berantah, terlalu
sulit bagi Jun mengetahui tempat yang telah luluh lantah ini.
Sesosok gadis muncul ke permukaan, cukup mengerikan dengan
kondisi wajahnya yang dipenuhi rambut panjangnya –Jun cukup was-was jika saja
kemampuan indra keenamnya berfungsi sekarang. "Jun-ie...
kau membuat rambut berkilau-ku bersua dengan lumpur-lumpur ini." Jun mengucap
syukur dalam hati, terlihat senyum mengembang dari bibir kecil Jun setelah
gadis itu menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi paras tampannya.
"Jeonghan
hyung!" –sepertinya bukan seorang gadis –.
Jun mengeraskan suaranya agar mencapai
pendengaran lelaki cantik itu yang tengah hanyut dibawa arus. "Bukan aku yang membuatnya! Kau kira aku Poseidon?
Aku hanya menyebabkan hujan! Sungguh!" Jun meyakinkan. Jun akhirnya
menyadari statusnya sebagai seorang Rain Man.
"Ya! Hari ini jadwal kita padat! Bisakah
kau cancel acara hanyut-hanyutan
ini?" Jun hanya dapat mengernyitkan dahinya –bingung –menanggapi sang
pemimpin yang mengkhawatirkan
keselamatan karir grupnya. Kondisi
Seungcheol lebih baik dari ketiga temannya yang lain.
Seungcheol
mengikatkan ujung tali
pada sebatang pohon dan ujung lainnya ia ikatkan melingkari tubuhnya. Seungcheol
lantas meluncur menerjang arus menyelamatkan kawannya yang hanyut.
"Ba~dai!!"
Disisi lain lelaki sipit memilih menyenandungkan sebuah lagu. Sepertinya Soonyoung
benar-benar ingin masuk team vocal jika ia selamat kali ini.
"Junhui-hyung! Thanks untuk lulur lumpur ini!
Bukankah lulur ini akan memutihkan?" Mingyu sedang dalam misi diselamatkan
sang pemimpin Choi Seungcheol.
Jun
mengernyitkan keningnya lagi. Padahal maksudnya kemarin mengatakan tentang
lulur itu hanya sekedar guraun yang garing,
namun sepertinya Kim mingyu mempercayainya.
Jun memilih untuk diam seolah tak bersalah,
ia tak ingin lelaki berkulit tan itu melantunkan
ceramahnya.
"Jun-hyung! Celenganku akan segera ku ambil! Aku yakin pohonnya sudah tak tinggi lagi
bukan? Badaimu sangat berguna!" Di sisi lain, sang maknae merasa bersyukur akan bencana
ini. Jun sudah tak sanggup harus mengatakan pada semuanya bahwa bukan ia
penyebab semua ini, Sungguh.
Jun
tersenyum tipis mendengar pernyataan terima kasih dari sang maknae. Jun ingat sangat
dengan celengan dinasaurus milik Lee chan, celengan ajaib yang tiba-tiba telah
berada di dahan pohon yang dipenuhi serangga merah.
"Ah!
Jihoon-hyung!" Pekik Chan
seketika itu juga ketika melihat kelakuan hyung
kecilnya yang mengapung dengan memeluk celengan miliknya, dengan wajah polosnya.
Dan yang terlihat kini adalah aksi kejar-kejaran dua lelaki pendek itu,
ditengah banjir bandang.
Sepertinya air bah ini mengandung zat tertentu, Jun tak
habis pikir mengapa para karibnya terlihat aneh kini, kecuali-
"Dowa
Jusèyo! (Tolong bantu saya)" Lelaki
cina dengan matanya yang besar masih
memiliki kesadaran penuh, walau tak ketinggalan nada bicaranya yang terdengar cute ketika harus mengucapkan bahasa
tempat ia terhanyut sekarang.
Seokmin
hanyut dengan tenang sembari menunjukkan sederetan gigi putihnya yang bersinar
ketika harus bertemu cahaya mentari secara radiasi. Seungkwan tak bisa menahan lagi, ombak yang cukup besar
membuatnya kehilangan kekuatan untuk terus memeluk Jun dari belakang, sial! . Ia harus mengikuti
jejak hyung-nya yang lain, terhanyut
dalam gelombang air bah.
Alhasil
hanya beberapa dari mereka yang selamat. Tak lebih dari separuh anggota. Jun,
Mingyu –yang diselamatkan Seungcheol–, Sang
pemimpin, Hansol dan Jeon Won woo. Air bah lama-kelamaan mulai surut,
meninggalkan puing-puing kota yang berhambur.
“Tak apa! Kita masih bisa comeback dengan member yang tersisa.” Seungcheol terlihat puas.
"J-junhui."
Suara terbata-bata berhasil mengambil alih atensi keempat lelaki lainnya. Sorot
mata tajam dari empunya suara berat itu mengarah pada reruntuhan itu.
Lantas
tak perlu waktu lama bagi yang lain untuk mengarahkan pandangannya pada titik
yang sama pada lelaki bermarga Jeon itu.
Makhluk
tak bernyawa itu berjalan dengan gontai menuju makhluk hidup yang tersisa, dan
itu artinya Jun dan teman-teman. Makhluk
tak bernyawa itu, Seokmin dengan senyuman khasnya,
Jeonghan dengan helaian rambutnya yang kini berwarna kecoklatan, Chan dengan
celengan dinosaurusnya yang ia dapatkan setelah mengalahkan hyung-nya
dalam gulat di tengah badai, serta tak lupa si chubby Seungkwan, dan yang lain Joshua dan
Myunghoo.
"Kita
akan melawannya?" Seungcheol terlihat mengambil kuda-kuda siap untuk
mengeluarkan jurus-jurus yang selama ini ia pelajari di dorm. Namun dari
ekspresi wajah dan intonasi suaranya terlihat dan terdengar jelas keraguan di
sana.
"Habislah
kita." Suara berat Jeon won woo, badannya siap berbalik arah dan berlari
kencang.
"Berdasarkan
jumlah, kita kalah." Hansol mencoba menambahkan. Yang malah membuat rasa pesimis menjalari tubuh keempat
lelaki itu.
"Lari."
Tanpa aba-aba yang jelas, Wonwoo dan lelaki tan itu berlari secepat kilat, disusul Hansol.
Sejemang kemudian Jun mencoba menyusul, namun sayangnya
mayat hidup itu telah menjangkau tubuhnya. Jun
terjerembap. Ia jatuh tersungkur mencium bau khas tanah lumpur, dan kesalnya
lagi lumpur kecoklatan itu mengkotori wajah Jun –hal yang benar-benar Jun tak
sukai.
Layaknya
api ungun, Jun dikelilingi mereka. Mereka yang tak bernyawa lagi dan hanya tinggal raga
yang kosong. Tatapan dingin mereka membuat Jun takut –lebih dari rasa takutnya
kehilangan paras rupawannya. Tatapan dingin mereka
seperti ingin melakukan kanibalisme padanya, menghabisi otak kecil Jun –apakah ini termasuk kanibalisme? Jun membatin –.
Jun
takut, ia tak ingin mati dengan menjadi santapan member seventeen. Ia hanya
bisa memejamkan mata sembari tak henti-hentinya berharap keajaiban memihaknya.
"Junhui!"
"Ya!
Junhui!"
"Wen
jun hui!"
Seseorang
memanggilnya, terdengar sangat jelas. Dengan keberanian yang tersisa, Jun
membuka kedua matanya perlahan. Cahaya silau menyapanya lebih dulu, mencoba
menghindar Jun berpaling. Jeon Won Woo
duduk di atas tempat tidur dengan kakinya yang menjuntai panjang menyentuh
permukaan lantai yang dingin, sorot matanya yang tajam tak ketinggalan.
"Ya!
Bangunlah! Kau ingin aku menghabiskan satu ember besar air untuk
membangunkanmu?" Seungkwan
menggerutu.
Mimpi?
Suara
dari dalam batin Jun. Tentu saja! Jun
tertawa garing. Seungkwan melangkah menjauh
setelah manik coklatnya bertemu dengan manik lelaki Cina itu.
“Aku
bermimpi sesuatu yang aneh.”
Atensi
Jun teralihkan, pada lelaki berdarah campuran itu. Hansol mengaruk-garuk
kepalanya, merasa ada yang salah dengan ingatannya di dunia mimpi.
“Badai?”
Jeon wonwoo angkat bicara. Membuat Jun harus memutar kepalanya ke arah yang
berlawanan.
“Kau
pikir itu mimpi?”
“Mimpi?”
Jun
tercengang. Diujung kaki lelaki bermarga Jeon itu. Cairan kental mengalir
–entah dari mana –dan berakhir di ujung jemari kaki lelaki itu, lalu
meninggalkan bercak kecoklatan di permukaan lantai keramik.
Air bah?
Apa ini mimpi?
Atau kenyataan?
The End.
Cerita ini kebayang waktu ada ujan lebat
beberapa hari di beberapa wilayah Indonesia//ngaak nyambung!
Sedikit bingung milih judulnya
mau Storm ato Nightmare//Curhat dikit//
Oke sekian! Thanks buat
everybody yang udah baca! Semoga nggak jera! Komen dinanti!


