Title : Departure Series –FLY
G/Contain 413
words/AU/Non canon//Slice of Life//Dark mungkin
Park Jinyoung (Junior
GOT7)
Park Jinyoung bukan
milik saya. Saya hanya meminjam tokoh/karakter untuk kepentingan cerita. Hanya
mengklaim plot milik saya. Saya tidak bermaksud menyebabkan kerusakan karakter
dan mengambil keuntungan dari itu.
-o0o-
Aku hanya ingin terbang.
-o0o-
Angin berhembus, perlahan
menghilangkan air yang mengandung amonia – gas tak berwarna yang berbau
menusuk—di kedua belah pelipis lelaki muda itu. Dirasakannya udara pegunungan
yang sejuk memasuki organ pernapasannya.
Di sanalah ia kini, lelaki
bermarga Park itu. Pegunungan kecil yang terletak di kampung halamannya dulu.
Bukan maksud untuk menenggok nenek yang tertulis di silsilah keluarga kecilnya,
bukan pula untuk sekedar menghirup udara pedesaan sembari menghilangkan rasa
penat setelah berguru di perguruan tinggi.
Mungkin beberapa kawan
seperjuangannya kini, tengah berkutat dengan buku-buku tebal yang hanya
berisikan tulisan yang membuat pening bagi pembacanya.
Berbeda dengan pemikiran seorang
Jinyoung. Jinyoung biasanya bukanlah seorang yang memiliki angan-angan yang
terlalu tinggi, ia lebih suka berpikir logis dan melakukan hal yang manusiawi.
Tekanan berat yang diberikan ketika berkuliah, membuatnya sedikit lebih sering
berkhayal.
Ia merentangkan tangannya. Tepat
di puncak gunung, ia bergaya layaknya superhero di film-film. Ia memejamkan
matanya. Terlihat sebuah kurva terbentuk di antara kedua pipinya, walau
terlihat remang-remang namun sudah cukup membuatnya terlihat senang. Ia hanya
sendiri, dengan pakaian yang seadanya.
Apa hanya aku yang
memikirkannya? Batinnya dalam hati.
Aku ingin mengarungi samudra. Menlintasi benua. Menyentuh puncak
himalaya. Tidur sembari memeluk beruang di kutub utara. Apa hal ini terlihat
aneh?
Aku hanya ingin terbang. Tanpa kapal terbang yang besar. Tanpa benda
bermesin dengan baling-baling di atasnya. Tanpa sebuah jet yang melesat dengan
cepat. Aku hanya ingin terbang layaknya burung di atas langit, menembus
awan-awan yang terlihat selembut kapas.
Tanpa sebuah dorongan. Jinyoung
turun meluncur ke bawah secepat grafitasi bumi. Ia biarkan jasadnya terjun
mencium tanah bumi. Ia biarkan medan grafitasi bumi menariknya ke pusat. Ia
biarkan angin pegunungan menerpa tubuhnya. Angin pegunungan mencoba menahan
tubuhnya agar tak menyentuh bumi, namun hanya ketidakberhasilan yang ada.
Jinyoung perlahan membuka kedua
matanya. Jinyoung tak berani menengok ke bawah, untuk sekedar mengetahui
keberadaannya sekarang. Satu per dua belas menit kemudian ia tersadar.
Dirasakannya jemari kakinya menjulur kebawah, namun ia tak merasakan dinginnya
tanah lumpur di antara padi-padi yang telah menguning itu.
Pertanyaan pertama yang terbesit
di pikirannya, Aku terbang? Ataukah hanya
melayang?
Dengan keberanian yang ia
kumpulkan, ia menatap ke bawah. Nihil, ia bahkan tak dapat melihat kakinya.
Namun kebenaran akan ia dapat merasakan keberadaan kakinya tak ada maksud untuk
ditarik kembali.
Lagi-lagi senyuman terukir di antara
kedua belah pipinya, membuatnya terlihat lebih manis. Ia melayang. Dan bisa
terbang. Dan terlihat jelas ia benar-benar bahagia. Keinginan kecilnya
terkabul, menjadi nyata.
Jinyoung terbang menjauh.
Melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan dengan kemampuannya yang sekarang,
tanpa raga sebagai selimut jiwanya. Ia terlihat bahagia.
End
Terima kasih bagi yang bersedia membaca cerita aneh ini.
sekian.
//cerita apa ini?// maaf jika cerita ini gaje//

Tidak ada komentar:
Posting Komentar