Title : While You’re Sleeping
(Olympus series: Hefaistos)
Summary : Saat kamu tertidur
apakah kamu bertemu denganku dalam mimpimu?
By : SeeMe
Cast :
- Woozi SVT as Lee Jihoon
- Kwon Eunha (OC)
Oneshoot// G// AU, Friendship, Romance/Friendship
(entahlah saya payah dalam pengklasifikasian genre)
Disclaimer : Woozi bukan milik saya, sungguh bukan.
Saya hanya meminjam untuk kepentingan cerita ini. Saya tidak bermaksud
menyebabkan kerusakan karakter dirinya di mata Anda, sungguh tidak.
-oOo-
While You’re Sleeping
-oOo-
“Aku lelah” adunya ketika aku
menemukannya masih bergelut dengan selimut, padahal sebentar lagi gerbang
sekolah akan ditutup. Kalau dia masih saja seperti ini, kukira namanya akan
mencetak rekor terlambat nomor satu, tentu saja jika ada rekor seperti itu di
sekolah.
“Memangnya apa yang telah kamu
lakukan?”
Ia menurunkan selimut, dapat
kulihat dengan jelas matanya yang sayu. “Tidak ada, tapi rasanya seperti begitu
mengantuk dan lelah”
“Makanya jangan tidur terlalu
larut”
“Aku sudah tidur sejak jam lima
sore kemarin” balasnya, kembali menyembunyikan sosoknya dalam selimut berwarna
biru muda itu.
Jam lima sore? “Kamu tidur hampir empat belas jam”
“Yah, dan aku masih mengantuk
sekarang”. Setelah itu ia sudah tertidur dengan nyenyak.
Jihoon memang sering bangun
terlambat, entah kenapa dia begitu betah tidur, meski telah berjam-jam berada
di atas tempat tidur, dia bilang itu masih belum cukup.
Aku mendesah pelan, mungkin dia benar-benar lelah. Dengan
pikiran itu aku meninggalkannya di kamar.
-oOo-
Terakhir kali aku bertemu
dengannya hari senin yang lalu, itu pun dia kutinggalkan terlelap di atas
tempat tidurnya. Sejak saat itu, kursi di depanku terus saja kosong selama dua
hari ini. Guru-guru yang mengajar terus saja menanyakan perihal
ketidakhadirannya. Diam. Tidak ada yang menyahut, mungkin karena memang Jihoon
jarang bergaul sehingga tidak ada yang menjadi teman akrabnya. Aku hanya
menunduk, malas memberikan jawab atas tanya—karena aku pun tak tahu jawabnya.
Setelah bel pelajaran terakhir
berbunyi, aku memutuskan menyambangi rumahnya. Seperti biasa, kutemukan lampu
di berandanya menyala. Entah memang dibiarkan menyala, atau sang empunya begitu
malas mematikan.
Kutemukan sosok itu masih setia
bersembunyi di balik selimut, bergelung dengan wajah yang begitu tenang,
membuatku mengurungkan niat untuk membangunkannya. Pandanganku beralih
mengitari sekitar kamarnya, lalu terhenti pada secarik kertas yang terjatuh di
sekitar tempat tidur.
Bangunkan aku kalau kau datang! –diiringi gambar matahari yang
tersenyum.
Sesuai pesan itu, aku
membangunkannya dan disambut oleh erangan tidak suka.
“Bangunlah” aku menggoyangkan
badannya, mencoba menyadarkan Jihoon dari tidurnya. Perlahan matanya mengerjap,
mencari titik fokus. Sebuah senyum terkembang begitu menyadari kehadiranku.
“Apa kamu lapar?”
Jihoon hanya membalas dengan
anggukan, kemudian dia menguap dan kembali memejamkan matanya setelah
mengatakan, “kalau makanannya sudah siap, bangunkan aku.”
-oOo-
“Biasanya hanya paling lama empat
belas jam, tapi sekarang bahkan sampai dua hari”.
Jihoon hanya tersenyum tipis,
kembali memasukan irisan daging dan mengunyahnya.
“Jihoon-ah!”
“Apa?” sahutnya malas.
Menyebalkan!
“Kamu bolos dua hari, dan
ternyata hanya tidur”
Ia terkekeh pelan, menggaruk
kepalanya sebelum berkata, “entahlah, rasanya begitu mengantuk.”
-oOo-
Kebiasaan tidur Jihoon sudah
terjadi sejak setahun yang lalu, di hari pertama kami memasuki masa Sekolah
Menengah Atas. Kutemukan dirinya meringkuk di balik selimut di ruang Kesehatan.
Kupikir awalnya dia demam, tapi bukan. Ia hanya tertidur.
Dia terbangun saat matahari sudah
tidak ada di langit, berganti rembulan yang bersinar separuh. Wajahnya yang
putih pucat ditimpa sinar bulan, entah bagaimana membuatku terpaku. Menahan
rasa kesal yang hendak kutumpahkan padanya—karena membuatku menunggu berjam-jam
hingga ia bangun. Rasa kesal itu menguar di udara meninggalkan sensasi yang
berbeda. Apa aku harus memeriksakan diri ke dokter—menanyai penyebab rasa sesak
yang menyenangkan ini
“Terima kasih sudah menungguiku”
ucap Jihoon sambil tersenyum.
Sepertinya memang benar aku harus
menemui dokter.
-oOo-
Pernah suatu saat aku tak kuasa
menahan diri—mengatakan hal yang menyakitinya. “Periksakanlah dirimu ke dokter”
Hening. Ada jeda yang
menyesakkan. Aku memandangi dirinya yang kini lebih senang menatap lantai,
entah menghitung barisan ubin atau pikiran berkelana tak tahu kemana.
“Aku takut”, sahutnya pelan.
“Apa yang kamu takutkan?”
“Bagaimana jika aku mengidap penyakit?”
matanya tepat menghujamku. Sial! Aku
telah menyinggung topik yang sensitif.
Tapi ini sudah terlambat untuk
menarik kata yang telah terucap. “Lebih baik segera mengetahuinya, daripada
terlambat”, sahutku, mencoba mengucapkannya dengan tenang—menyembunyikan
kegelisahan di dalamnya.
“Apa kamu mau menunggu sampai
tertidur berminggu-minggu? Kamu bisa mati kalau begitu.” Itu hanyalah
pertanyaan kosong, dimana aku bahkan tidak mengharapkan jawab atasnya.
“Kamu tidak akan mengerti!”
Hanya kata itu yang terucap
darinya, sebelum langkahnya membawa sosok itu menjauh dariku. Meninggalkanku
bersama rasa menyesal, “Aku hanya mengkhawatirkanmu”
-oOo-
“Yang aku tidak mengerti, kamu
masih bisa mengingat pelajaran”
Jihoon terkekeh pelan mendengar
perkataanku, matanya masih terfokus pada buku, tangannya masih sibuk menarikan
pena. Aku kembali melihat soal yang tertera, mengeryit bingung, harus
kuakui—fisika itu sulit.
“Memangnya kenapa?”
Aku mendongakkan kepala, menatap
tepat keiris hitam itu. Sang empunya mata menunggu jawaban dariku.
“Padahal kamu bilang banyak hal
yang tidak bisa diingat setelah bangun,” ia mengangguk. “Tapi dengan mudah bisa
menjawab soal ini” tunjukku pada lembar jawabannya yang hampir selesai.
“Itu berbeda” sebuah senyum
menghiasi wajahnya, “yang menghilang dariku adalah kenangan” imbuhnya pelan.
Itu sebabnya terkadang setelah terbangun kamu lupa tentang pertemanan
antara kita?—hampir saja aku melontarkan tanya itu jika aku tidak menyadari
ada bulir bening yang menggantung di matanya.
-oOo-
Setelah satu minggu terlelap
dalam tidurnya, untuk pertama kalinya aku melihat irisnya yang legam itu.
Mengerjap pelan memfokuskan pandangan, maniknya berhenti tepat menatapku.
“Kali ini berapa lama aku
tertidur?” ia tersenyum miris.
“Tidak sampai membuat bubur
buatanku mendingin” sahutku seraya meletakkan semangkuk bubur di hadapannya.
Alisnya mengeryit tak suka, matanya yang tadi melihat mangkuk itu beralih
menatapku, “Kenapa bubur? Memangnya aku orang sakit?”
Aku menggeleng pelan, “aku hanya
sedang ingin makan bubur”. Aku menunjuk meja yang berada tidak jauh dari tempat
tidurnya. Ada sebuah panci dengan asap mengepul, berisi bubur yang baru saja
matang. “Aku buat banyak, dan kalau tidak mau, untukku saja”
Dia menghentikan tanganku yang
ingin mengangkat mangkuk bubur itu, ia menggeleng pelan, “aku lapar”.
Setelah itu yang ada hanya
keheningan, ia memakan buburnya perlahan, tanpa berniat mengatakan apapun.
Begitu juga aku yang lebih menikmati memandanginya dalam diam. Hingga sebuah
tanya menyentakkanku.
“Mereka bilang aku sakit apa?”
-oOo-
Pernah suatu ketika, entah
tanggal berapa, ditemani dinginnya angin malam di balkon kamarnya, ia
mengatakan hal aneh.
“Percayakah kamu, bila aku
katakan aku adalah dewa di kehidupan sebelumnya?”
Alisku bertaut bingung, tertidur
begitu lama mungkin membuat dunia nyata dan mimpi bertumpang tindih baginya.
Dengan begitu bodohnya aku menuruti saja, “Benarkah? Dewa apa?”
Sinar rembulan yang menerpa
wajahnya membuatku merasa perkataannya bukanlah sekedar gurauan. Parasnya yang
begitu memikat, siapa tahu kalau dia benar-benar seorang dewa. Aku tertunduk
menyembunyikan senyuman yang tanpa permisi langsung tercipta.
“Hefaistos” gumamnya perlahan,
suaranya yang merdu mengalun pelan.
Hening sejenak, mencoba menggali
ingatan yang mungkin telah usang di sudut pikiranku. Barangkali aku yang
terlampau kurang pengetahuan hingga tidak mengetahui perihal dewa yang satu
ini—Hefaistos.
“Dewa apa dia? Dia siapanya
Zeus?”
Sebuah senyum ia lemparkan
padaku.
“Zeus? Entahlah dia mengakuiku
atau tidak” sahutnya kesal.
Aku tidak mengerti, mengakui?
“Begitu juga hera. Wanita itu
bahkan melemparkanku dari Olimpus” imbuhnya.
Waktu itu aku hanya terdiam dan
mendengarkannya. Dan dihari berikutnya pergi ke perpustakaan yang ada di tengah
kota, mengumpulkan semua yang berhubungan perihal kedewaan bangsa Yunani itu.
Paling tidak di saat Jihoon kembali terbangun dan menceritakan tentang dewa,
aku bisa mengerti dan bukan terdiam seperti malam itu.
-oOo-
Sekarang Jihoon benar-benar tidak
masuk sekolah lagi. Frekuensi tidurnya semakin panjang. Bahkan terkadang aku
harus menyuapi dirinya yang setengah tertidur. Jihoon jarang sekali bangun
sepenuhnya. Terakhir kali hal itu terjadi saat ia mengatakan hal aneh tentang
dewa.
“Sekarang siang rasanya begitu
menyilaukan” gumam Jihoon pelan.
Aku menatap sosoknya yang
bersembunyi di balik selimut tebal, hanya sebelah matanya yang terlihat, ia
menatapku. Mataku bergulir memandangi jendela, cahaya mentari pagi merayap
pelan menembus kaca-kaca pembatas.
“Ini masih pagi, bagaimana bisa
silau?” gumamku melirik jam yang terpajang di atas jendela. Jarum pendeknya
masih berada di angka delapan. Hening.
Kudapati Jihoon sudah terlelap di balik selimut biru muda itu.
-oOo-
Pernah suatu saat ia terbangun,
bukan hal itu yang membuatku heran. Tapi pertanyaan yang ia lontarkanlah yang
sukses membuatku terkejut.
“Kau siapa?”
Rasanya saat itu juga aku ingin
berlari mencari cermin dan memandangi wajahku, apa rupaku telah berubah
sehingga Jihoon tidak lagi mengenaliku. Memang, dia terkadang melupakan bahwa
aku adalah temannya, tapi tidak pernah sampai dia melupakan siapa aku.
“Aku Eunha” sahutku pelan setelah
sejemang terdiam, “aku temanmu” imbuhku.
“Ah benarkah? Maafkan aku,” ia
menggaruk kepalanya pelan, terlihat merasa tidak enak. “Aku sepertinya
melupakan banyak hal”
Aku mengangguk, “apa kamu juga
melupakan namamu?”
Ia mendongakan wajahnya, iris
hitam yang indah itu menyipit seiring sebuah senyuman terukir di wajahnya yang
pucat, “Namaku Jihoon, Lee Jihoon”. Sebuah hembusan nafas lega meluncur begitu
saja dari mulutku, setidaknya ia tidak melupakan—
“Dan dulu aku adalah Hefaistos”
—dirinya.
-oOo-
Siang itu, hari kedua puluh dua
di bulan November, ia terbangun setelah tertidur dua minggu. Aku membuatkan
Jihoon kue cokelat kesukaannya—yah dulu dia menyukainya, aku ragu entah
sekarang Jihoon masih mengingat hal itu atau tidak.
Kurasa masih, karena setidaknya
dia sekarang sedang memakan potongan kelima tanpa jeda.
“Seperti biasa, kue buatanmu
memang yang terenak segalaksi” pujinya disela kunyahan. Aku melirik piring yang
ada di depannya, hanya tersisa serepih kue.
“Untunglah, kamu masih mengingat
kue-ku”
Seperti sebuah kebiasaan, ia akan
selalu tersenyum bahkan disaat mengatakan hal yang menyedihkan, “Andai aku bisa
mengingatmu juga”
Rasanya seperti aku begitu kejam,
mengeluarkan kata-kata yang menyakitinya. Aku selalu merutuki diriku sendiri
yang begitu payah mengungkapkan sesuatu, selalu berujung menyakiti orang lain.
Kemudian kurasakan sentuhan
hangat pada tanganku, sebuah senyuman yang sama kembali terlukis di wajahnya, “Bukan
masalah ingatanku terhapus, aku punya ingatan penggantinya, ingatan Hefaistos”
Itulah masalahnya!
-oOo-
Matanya begitu tajam melihat apel
serta mawar yang kubawa, ia sudah terjaga saat aku membuka pintu. Menyadari
Jihoon tidak mengalihkan pandangannya dari barang yang kubawa menciptakan tanya
dariku.
“Kamu tidak suka apel?”
Ia menggeleng pelan, “hanya
mengingatkanku dengannya”
“Siapa?”
“Zeus menikahkanku dengannya,
wanita tercantik yang ada di Olimpus”
Oh! Astaga! Para dewa lagi?!
“Afrodit?” mengucapkan nama itu
menyakitiku seolah aku baru saja menyebutkan nama kekasihnya. Oh tidak, itu
memang benar, Afrodit adalah istri Hefaistos!
“Ya, apel dan mawar adalah
perlambangan akan dirinya” jelas Jihoon. “Sayang, pernikahan itu hanya untuk
mencegah konflik di antara para dewa” sebuah senyum getir terpancar di
wajahnya, “kecantikannya bisa menimbulkan perselisihan”. Matanya menerawang,
kutebak ia pasti sedang membayangkan rupa gadis itu.
Serasa diiris sembilu, kini aku
mengerti arti ungkapan itu. Rasanya seperti ada luka yang menyakitkan, tapi
tidak berdarah sama sekali. Begitu melukai melihat orang yang disuka mengenang
orang lain.
“Toh, pada akhirnya ia lebih
memilih berbahagia dengan Ares, karena tak menemukan kebahagiaan denganku”
imbuhnya pilu.
Ini aneh, aku tidak bahagia sama
sekali mendengar gadis itu meninggalkannya. Melihat Jihoon tertunduk, rasanya
seperti aku yang dicampakkan.
Aku mengulurkan tangan menyentuh
pipinya, wajahnya terangkat, manik legam itu menatapku, “aku jadi takut kamu
pergi, kamu secantik dirinya.”
Itu pujian yang menyakitkan, Jihoon-ah.
Aku mencoba tersenyum, meski aku
ragu senyum yang kuberikan tidaklah terlihat indah, “Tenang saja,” sahutku. “Aku
bukan Afrodit si dewi kecantikan, anggap saja aku Aglaia. Dan aku tidak akan
meninggalkanmu”
Jihoon terkekeh pelan, “Baiklah,
aku mempercayaimu”.
-oOo-
“Kamu bangun hanya untuk makan”
gerutuku suatu hari padanya. Jihoon meletakkan sumpitnya di atas meja,
memajukan bibirnya kesal. Aku meletakkan sepiring sushi ke meja, menopang
wajahku dengan satu tangan, menyedot milkshake
vanilla-ku.
“Dan Eunha, sejak kapan sushi
dimakan bersama milkshake?”
Hanya sebuah gelengan pelan yang
kuberikan. Kesal karena ia mengalihkan topik pembicaraan sesukanya.
“Memakan sushi membuatku ingin pergi
ke Jepang” gumamnya.
Tiba-tiba ia berdiri dari
duduknya, “bagaimana kalau kita berlibur ke Jepang?!” tanyanya begitu antusias.
Kemudian ia begitu sibuk mengoceh, sedangkan aku sedang berusaha menetralkan
jantungku kaget karena teriakannya.
“Tapi sebelum kesana, kita pergi
ke Pulau Lemnos dulu, aku begitu rindu tempat itu”
Aku mengeryit, pulau Lemnos? Rasanya nama itu asing
tapi di saat bersamaan terasa familiar, dimana aku pernah mendengarnya? Apa itu
tempat wisata atau—
“Disana, ada bengkel dan pusat
pemujaan untukku”
—oh rupanya masih tentang dewa
lagi.
-oOo-
Ia menjadi lebih sering membual
tentang dirinya di masa lalu, membuat benda-benda berkekuatan menakjubkan untuk
para dewa-dewi Yunani kuno. Seperti, helm dan sandal bersayap milik Hermes,
perisai Aigis, korset Afrodit, tongkat Agamemnon, baju perang Akhilles, lonceng
perunggu Herakles, kereta perang Helios, bahu Pelops, busur dan anak panah
Eros, Pandora dan kotaknya, serta Talos.
Saat kutanya tentang korset
Afrodit, dia hanya membalasku dengan tawanya yang renyah dan kembali
menceritakan tentang para Kiklops yang sering membantunya bekerja di bengkel.
Dan aku seperti biasa kembali
mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami dunia yang diceritakannya.
Terkadang aku harus membuka buku sejarah para orang Yunani kuno itu setelah
malamnya ia mengucapkan kata-kata yang asing di telingaku. Aku melakukan itu
sekedar bisa menyahut jikalau dia terbangun dan menceritakan lagi tentang
dirinya di masa lalu, sang dewa, Hefaistos.
-oOo-
Ingatan-ingatan sang dewa itu
begitu meracuni pikiran Jihoon. Pernah ia bangun dengan marah, katanya para
dewa tak tahu diri itu telah mengotori singgasana yang ia buat di Olimpus.
Detik berikutnya ia kembali terjatuh ke alam mimpi.
Atau suatu pagi ia terbangun dari
mimpinya dengan linangan air mata, katanya teringat bagaimana perlakuan Hera
terhadapnya—melemparkannya dari Olimpus. Kakinya pincang setelah itu. Aku
menghiburnya, mengatakan bahwa ia sekarang tidaklah pincang, kemudian ia
tersenyum dan menutup matanya.
Yang paling sering ia ceritakan
padaku, adalah tentang bagaimana ia menjebak sang ratu para dewa, Hera. Ia
membuat sebuah singgasana emas, yang membuat Hera terperangkap setelah duduk
diatasnya.
“Semua orang memintaku kembali ke
Olimpus,” ia mendecih pelan, “aku menolak, aku katakan pada mereka ‘aku tidak punya ibu’ ”. Kemudian ia
tergelak, “tapi Dionisos menjebakku hingga akhirnya aku kembali ke Olimpus”.
Matanya nanar, kilau bening merengsek hendak keluar dari kelopak matanya.
Aku merutuk dalam hati, siapa
Dionisos yang telah berani membuat Jihoon bersedih. Astaga lihat dirimu Eunha, kau
merutuki orang yang bahkan tidak jelas ada ataupun tidak.
-oOo-
Sindrom Kleine-Levin, saat kutanya sebab Jihoon selalu tertidur,
dokter bilang kemungkinan hal itu yang diidapnya.
Sindrom yang membuat penderita bisa tertidur dalam jangka waktu yang lama.
Sebuah penyakit syaraf yang langka, dimana penderita tidak bisa mengontrol rasa
kantuknya. Penderita bisa tertidur selama berjam-jam, berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Bangun hanya untuk makan atau pergi ke
kamar mandi. Aku memijit kening pelan, rasanya kapasitas memoriku sudah
tidak memungkinkan lagi untuk menampung informasi baru. Rasanya isi kepalaku
hanya tentang dewa, dewa, dan dewa Yunani.
Ketika penderita bangun, bertingkah seperti anak kecil karena sebagian
memori ingatannya terhapus pada saat penderita tertidur. Banyaknya ingatan yang
terhapus tergantung dari berapa lama tertidur. Aku terkekeh pelan, memori
ingatannya memang terhapus, tapi entah bagaimana ia memiliki ingatan yang lain.
Ironi. Ia mengingat gadis itu, dan melupakan diriku yang ada di dekatnya.
Mataku berhenti di baris ketiga
paragraf terakhir. Dokter sejauh ini
tidak tahu persis apa penyebabnya dan bagaimana menyembuhkan sindrom ini.
-oOo-
Sindrom Kleine-Levin—
Saat kutanya sebab Jihoon yang
selalu tertidur begitu lama, dokter mengatakan kemungkinan hal itu yang diidapnya.
— atau yang sekarang terkenal
dengan nama ‘Sleeping Beauty Syndrom’.
Mendengar itu mengingatkanku pada
La Belle au Bois dormant, sebuah cerita klasik tentang putri tidur. Sang putri
tidur memerlukan sebuah ciuman dari sang Pangeran. Pada akhir cerita, ia
terbangun setelah Pangeran menciumnya, ia terjaga dan tidak lagi tertidur dalam
penantian. Jihoon-ah, Apakah dirimu
juga memerlukannya?
Menurut dokter,
sindrom ini akan hilang dengan sendirinya ketika menginjak dewasa.
-oOo-
a/n
Hefaistos bukan dewa
mimpi loh ya, cuman di cerita ini dede Uji terkena sindrom Kleine-Levin aka
Sleeping Beauty Syndrom.
Sedangkan si Hefaistos itu adalah dewa api, tukang kayu, penempa besi, dan pengrajin senjata.
Sedangkan si Hefaistos itu adalah dewa api, tukang kayu, penempa besi, dan pengrajin senjata.
Aglaia, adalah salah
satu dari tiga Kharites, dewi keindahan. Kharites termuda, putri dari Zeus dan
Eurinome. Suaminya adalah Hefaistos, dewa pandai besi.
Terimakasih
sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Sekian//tebardollar
Salam...
Salam...
SeeMe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar