[Ficlet] My Reason
By Tainn
By Tainn
Cast: BooSeungKwan(Seventeen),
Aku(OC), Jeonghan(Seventeen)
G//FriendShip//?
Disclaimer:
Semua Cast di sini bukanlah milik saya,
saya hanya meminjamnya sebentar. Cerita ini adalah milik saya, jikalau ada
kesamaan pada alur, plot, atau apapun itu terjadi karena ketidaksengajaan. Dan
mohon maaf jika ada kesalahan serta
terima kasih yang sebesar-besarnya.
*
Jika
begitu tak ada alasan lagi bagiku untuk bisa bertemu denganmu...
*
"Bagaimana?" Tanya Seungkwan sambil
duduk di kursi di depanku.
"Mm..!" Aku berhenti menyeruput
secangkir kopi hangat. Ku letakkan cangkir bermotif bunga kembali ke atas
piring kecil yang memiliki motif yang sama pula.
"Mengapa kau bertanya lagi?" Aku balik
bertanya. "Bukankah kopi buatanmu tak mungkin di ragukan lagi
rasanya?"
"Tak.." jawabnya. "Bukan rasanya!
Aku pun tahu!" Aku membulatkan mataku, seakan mencoba memperluas
pendengaran dengan netraku- meski aku tahu itu sama sekali tak berguna-. Ia
tersenyum diikuti kekehan kecil.
"Lalu?" Nada suaraku mengandung rasa
jengkel.
Seungkwan memperdekat jarak dengan mencondongkan
wajahnya ke arahku. Aku balas menatapnya. Seungkwan menatapku seakan aku tahu
apa yang ingin ia tanyakan, namun aku hanya diam. Seungkwan menghela nafas
sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Bagaimana keadaannya?" Ia terlihat excited
lagi.
"Siapa?" Aku mencoba memahami
pertanyaannya. "Ah!" Aku tersenyum.
Seungkwan semakin meninggikan senyumnya membuat
kedua belah pipinya mengembung.
"Korban..." aku menghela nafas
dalam-dalam. Wajah Seungkwan berubah, senyumnya mulai menurun.
"... ada lebih dari dua tusukkan di bagian
punggungnya... bukan tusukkan benda tajam!" Suaraku sedikit menaik. Aku
menatap Seungkwan dalam-dalam.
"Bagaimana bentuk tusukkan itu?"
"Bentuk?" Aku kembali mencoba
memikirkan pertanyaan Seungkwan.
"Bulat.. ukurannya sekitar..." aku
membuat lingkaran kecil dengan kedua jari kananku. "Seperti ini! Ukurannya
cukup kecil, hanya... diameternya mungkin sekitar...." aku mencoba
mengingat-ingat.
"Satu centimeter?" Tanya Seungkwan
tiba-tiba.
"Ya!" Aku mengangguk cepat.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena aku terlalu hebat." Ucapnya
penuh dengan percaya diri. Aku hanya mendengus kecil.
"Baiklah.. lalu menurutmu tusukkan senjata
apa itu? Seungkwan yang hebat.." mood- ku jadi berubah seketika itu
juga.
"Tusukan dari senjata tumpul, ya?
Mm..." Seungkwan terlihat menimang-nimang kata-kata yang ia ingin katakan.
"Dengan ukuran sekecil itu, bisa ku
katakan.. mm... Obeng!" Serunya.
"Obeng? Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
"Ayolah! Itu hal yang gampang!"
Lagi-lagi nada suaranya terdengar mengandung kesombongan, tapi aku tak
mengubrisnya, sudah menjadi kesukaannya melakukan itu. "Aku pernah
menontonnya pada salah satu film hollywood -" belum selesai Seungkwan mengungkapkan
pendapatnya aku malah memotongnya.
"Jangan kau samakan masalah ini dengan film
yang kau tonton! Mereka hanya-" Seungkwan balas memotong kalimatku.
"Bisa saja ia terinspirasi dari sana?"
Seungkwan mencoba mempertahan pendapatnya.
Aku menghela napas. Aku tak pernah suka berdebat
dengannya, karena aku tahu ini tak akan ada habisnya, Seungkwan selalu dapat
membela dirinya lagi dan lagi.
"Bisa saja-"
"Stop it! Stop!" Aku ingin
mengakhiri perdebatan kami sebelum mencapai puncaknya.
Seungkwan hanya diam, tak ku sangka ia akan diam
hanya dengan beberapa kata yang terlontar dari mulutku.
"Apa tak ada senjata apapun di TKP?"
tanya Seungkwan namun dengan suara yang lebih pelan dan sambil berbisik.
Semangatku bangkit kembali. "Itulah yang
jadi masalah! TKP terlihat benar-benar bersih! Aku yakin orang ini benar-benar
berbakat!"
Seungkwan terlihat berpikir, begitu pun aku.
"Seungkwan! Waktumu sudah habis
Seungkwan!" Suara yang tak asing lagi bagi telinga Seungkwan dan aku. Kami
menoleh. Laki-laki berambut panjang berwarna kuning mendekati meja mereka.
"Jeonghan hyung..."suara
Seungkwan terdengar sendu. Aku menoleh pada Seungkwan.
"Sudah lima belas menit, ya?" Tanyaku
pada Jeonghan yang sudah berdiri di depan meja kami.
Jeonghan tersenyum ke arahku, lalu mengangguk
pelan. "Seungkwan! Kembali bekerja!" Jeonghan menatap Seungkwan.
"Tunggu.." aku menghentikan langkah
Seungkwan. "Sebentar saja boleh?" Aku menatap Jeonghan, ia mengangguk
pelan dan berjalan menjauh dari meja kami. "Seungkwan aku akan
kembali besok,"
"Apa kau ingin pergi? Secepat ini? Pesanlah
beberapa makanan manis atau kopi terbaru yang tersaji di sini!"
Aku menggeleng dan bangkit dari kursiku.
"Aku akan membicarakannya lagi denganmu,"
"Baiklah," Kata Seungkwan pasrah.
"Jika tabunganku sudah cukup untuk membelinya, kau tak perlu cape-cape ke cafe ini hanya untuk membicarakannya,
kita bisa memainkannya bersama lewat online."
Jika begitu tak ada alasan
lagi bagiku untuk bisa bertemu denganmu...
"Ya! Jika kau telah membeli handphone yang
baru aku akan memberikan game itu padamu!" Aku hanya tersenyum dan
meninggalkan kafe kopi.
-Fin-


