Jumat, 29 Juli 2016

Ficlet : Drawing




Drawing by SeeMe
Remember That series; Ficlet; BTOB Changsub and Seventeen Dino

o

People will Remember that day, when Changsub let Dino to Drawing

o

Hyung, apa yang sedang kau lakukan?”

Changsub hanya bergumam, tangan kirinya masih sibuk menorehkan kuas pada kanvas putih yang ada di depannya. Lukisannya masih setengah jadi.

Hyung!”

Changsub terkekeh pelan, ia melirik sekilas Dino yang duduk merengut di pojok. Pemuda yang umurnya berjarak hampir delapan tahun darinya itu memandangi dengan kesal sambil menggerutu.

Lee Chan namanya, tapi pemuda setinggi 5 kaki 6 inci itu melarang Changsub memanggil dengan nama itu—hyung, panggil aku Dino—ujarnya di suatu pagi. Changsub hanya mengiyakan tanpa bertanya. Toh, ia juga tidak bertanya bagaimana bisa pemuda itu tiba-tiba berada di tempatnya. Juga saat pemuda itu memanggilnya hyung. Atau saat pemuda itu meminta Changsub menganggapnya sebagai saudara. Changsub mengiyakan, tidak pernah bertanya.

Dino masih melototi Changsub, menuntut jawaban.

“Melukis langit”

“Lagi?”

Changsub meletakkan kuas di atas meja di samping kirinya, ia mendekati Dino, mengusap pelan puncak kepalanya. Menghembuskan nafas perlahan, duduk di samping pemuda bersurai hitam legam itu.

“Tentu saja. Itu sudah menjadi tugas hyung-mu ini

“Apa aku nanti juga akan mengerjakan tugas itu, hyung?”

Changsub menerawang, iris cokelat hampir hitam miliknya menatap lurus langit yang ada di atasnya—ruangan itu memang tanpa atap, dinaungi langsung oleh langit. Ruangan itu memang diperuntukkan bagi Changsub melihat langsung hasil lukisannya.

“Entahlah”

Dino membalikkan posisi duduknya, memunggungi Changsub. Memperlihatkan pada sang kakak ketidaksukaannya pada jawaban asal yang diterimanya. Sang kakak hanya tertawa pelan.

Changsub bangkit dari duduknya, melangkah menuju meja di sudut lain ruangan tersebut. Menuangkan kopi hitam pada cangkir putih, aroma kopi menguar memenuhi ruangan, kemudian hilang terbawa hembusan angin. Ia menyesapnya perlahan. Tidak ada yang lebih menenangkan daripada segelas kopi di siang hari.

Changsub memandangi pungung Dino yang masih kukuh merajuk. Terkekeh pelan, ia menuangkan melya pada gelas yang satunya, membawa serta gelas itu saat ia mendekati Dino.

“Dasar perajuk”

Dino bersungut-sungut mendengar ejekan itu, ia meraih gelas berisi melya yang disodorkan Changsub yang duduk di sampingnya. Meminumnya, membiarkan rasa kopi, cokelat serta madu berbaur dalam mulutnya.

“Aku’kan hanya bertanya”

“Aku akan jawab”

“Bohong”

“Tidak”

Hyung berbohong. Aku sudah bertanya tadi”

“Dan aku juga sudah menjawabnya”

Dino berdecih pelan, “hyung hanya menjawab dengan kata ‘entahlah’, memangnya ada jawaban yang seperti itu”

Si penggemar berat kopi itu terdiam sejenak, mencerup pelan seduhan kopi Kolombia di gelasnya. Kembali, obsidiannya menembus cakrawala. Ia diam.

Hening kemudian.

“Ulangi pertanyaanmu” gumamnya pelan. Lebih pelan dari cicitan burung di balik jendela kusam ruangan itu.

“Apa aku nanti juga akan mengerjakan tugas itu, hyung?”

“Mungkin” ia mengusap pelan puncak kepala Dino, “setelah hyung sudah tidak ada lagi di sini”

Dino memandanginya, kedua alisnya hampir bertaut. Iris mata itu penuh tanya, Changsub menatap langsung manik mata berwarna langka itu, berwarna amber. Manik berwarna campuran cokelat kekuningan dengan semburat warna tembaga—mata serigala—begitu orang-orang menyebutnya.

Changsub mengalihkan pandangan.

“Kamu menyukai langit?”

Untuk pertama kalinya, Changsub bertanya.

Pemuda bersurai hitam itu mengangguk antusias.

“Langit yang bagaimana?”

Sepertinya harus ada perayaan untuk ini, Changsub bertanya sudah lebih dari sekali—sesuatu yang sedikit aneh mengingat bahwa pria berpipi chubby itu tidak pernah sekalipun bertanya. Tidak pada saat ia diberikan beban tugas melukis langit, tidak juga saat ia bahkan tidak mengingat apapun selain namanya. Changsub hanya menerima, tanpa bertanya.

Dino berpikir sejenak, matanya berputar-putar. Jarinya mengetuk kursi berirama. Changsub bangkit dari duduknya, meletakkan cangkir di atas meja. Meraih kuas yang terabaikan.

“Aku suka langit berwarna biru, tanpa awan”

Changsub menghentikan tangannya di udara, memandangi lukisan di depannya. Langit biru ditemani beberapa awan yang beriringan.

“Tapi langit terlihat sepi tanpa awan” sanggahnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

Dino menggeleng cepat, melompat turun dari kursi kemudian berlari kecil menuju Changsub dan kanvasnya.

“Langit lebih bagus tanpa awan. Lihat”. Ia menunjuk lukisan Changsub, sebuah garis putih panjang membentang dari satu sudut ke sudut yang lainnya. “Langitnya jadi tidak indah lagi gara-gara awan ini”

Changsub tersenyum samar, “itu bukan awan”

“Lalu apa?”

Changsub menarikan jemarinya pada permukaan kanvas, mengikuti alur garis putih yang membentang. “Ini jejak yang dibuat oleh manusia”

“Apa mereka juga melukisnya?”

Changsub menggeleng.

“Lalu bagaimana caranya? Kukira cuma hyung yang bisa melukis warna di langit”

“Dulu memang hanya aku” gumam Changsub pelan, ia menggigiti kuku jarinya tanpa sadar. “Tapi kemudian manusia menemukan cara bepergian dengan benda besi bersayap”

Dino memandanginya dalam diam, menunggu kelanjutan.

“Saat mereka menaiki benda itu, garis ini tercipta di langit”

“Langit jadi jelek”

“Benarkah?”

“Ya. Langit itu lebih bagus berwarna biru, mmm jingga juga tidak masalah. Sebenarnya aku lebih suka langit tanpa tambahan garis ini”

Hening.

“Bagaimana dengan hyung?”

Changsub tersenyum samar, “aku tidak masalah dengan garis itu, langit tetaplah cantik. Karena langit memang cantik”.

Dino hanya mengangguk-angguk pelan.

“Mau mencobanya?”

“Apa?”

“Melukis warna di langit”

Dino tercengang, detik berikutnya ia mengiyakan dengan antusias.

Ia akan melukis warna di langit!

Changsub menyerahkan kuas kayu itu pada Dino, membiarkan pemuda itu melangkah mendekati kanvas sedangkan dirinya beringsut mundur.

Dino mengarahkan kuas kayu itu pada kanvas, mencoba mengendalikan tangannya yang bergetar hebat. Ia bertumpu pada rak di kanannya—hingga ia menyadari bahwa itu pilihan yang salah.

o

“Maafkan aku, hyung

Changsub memandangi kanvas yang ada didepannya, lukisan langit itu sudah berwarna merah kemerahan. Ia mendongak, mendapati langit yang berubah warna di atas sana. Perlahan namun pasti, biru langit memudar menjelma merah, seolah langit baru saja terluka hingga darahnya merembes kemana-mana.

Bukan, langit tidaklah terluka, hanya saja Dino baru saja menumpahkan cat merah ke atas kanvas—tidak sengaja memang. Changsub menelan semua kata yang ingin ia lontarkan pada pemuda itu, akalnya menahannya.

Bukan sepenuhnya salah bocah itu—yang begitu gemetar hingga menjatuhkan cat di rak yang dipegangnya. Ini juga salahnya—salah Changsub, membiarkan cat-cat di rak tidak ditutup.

Salahnya juga menawarkan Dino untuk melukis.

Salahnya juga membuat orang-orang akan mengingat hari itu sebagai langit berdarah.

People will Remember that day, when Changsub let Dino to Drawing


©2016 Juli
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Komentar, kritik serta saran akan diterima dengan tangan terbuka,
tapi tidak memaksa jika memang tidak ingin memberi komentar ^^
Sekian//tebardollar
Salam...
֎֍SeeMe֎֍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar